kelanjutan kisah Jatuh Cinta pada Cinta Pertama
Pada kisah sebelumnya, aku menerima tawarannya untuk membantunya melatih teater lagi. Kini sudah 3 hari aku dan dia bolak-balik ke tempat di mana kami melatih. Kami melakukan kegiatan sosial seperti dulu, hanya saja tantangannya kali ini lebih berat, yaitu membawa adik-adik itu ke Festival Teater Remaja 2014 yang diadakan setiap tahunnya. Sedangkan, teater adalah hal baru bagi adik-adik itu. Kami hanya memiliki waktu 2 bulan saja untuk latihan dan sebagainya. Bayangkan, aku dan dia saja harus latihan 6 bulan untuk bisa mencapai panggung pentas, karena butuh proses untuk bisa memahami semuanya. Tapi kami tidak patah semangat hanya karena waktu, yang harus aku dan dia lakukan menempa besi itu lebih keras agar menjadi belati yang tajam.
Aku hanya ingin menceritakan apa yang dialami perasaan ini sepanjang proses itu, tentunya dengan dirinya. Sejak dulu aku dan dia sudah sepakat, dia akan menjemput dan mengantarku meski itu tidak benar-benar diucapkan, namun itulah yang terjadi secara alami, seperti dia sudah mengerti kalau aku memang tiadk bisa ke tempat latihan sendiri. Dan ini sudah hari ke-3 aku dan dia bolak-balik ke tempat latihan.
Hari pertama, dia menjemputku di kos. Dalam perjalanan menuju tempat latihan, dia banyak bercerita tentang proses latihan yang mandek selama bulan Ramadhan kemarin. Setengah perjalanan menuju lokasi, tiba-tiba dia bercerita tentang putusnya dia dengan pacarnya. Aku kkuk harus menanggapinya seperti apa, yang ke luar dari mulut ini hanya kata 'Oh' yang panjang. Katanya pertengkaran yang terus-menerus membuat mereka harus putus Hemmm, di sisi lain aku agak tenang berboncengan seperti ini, karena tidak ada alasan bagi siapapun untuk cemburu, sekarang dia single. Tapi, di sisi lain aku seperti aneh harus membicarakan ini dengannya. Kata-kata bijakku seperti tertelan ludah sendiri, sedangkan aku harus bisa menanggapinya dengan sesantai mungkin. Agh ! aku marah pada diriku sendiri, kenapa tidak bisa bersikap normal seperti dulu sebelum aku menyadari perasaan ini ?
Hari ke-2, dia menjemputku seperti biasa dan kami berlatih seperti biasa. Sepulang latihan, dalam perjalanan menuju kosku, dia mencewritakan cerita yang pernah aku dengar sebelumnya, tapi kali ini dia menceritakannya dengan nada yang berbeda, "La, Tante Omi lagi-lagi jodohin kita." Seperti ada sesuatu di kalimatnya, namun tak kumengerti. Lama terdiam, karena aku sendiri tdak tahu harus berkata apa, dia pun berkata lagi "Tante kemarin jadi ketua KPPS waktu pemilihan," tidak ada tanggapan dariku. Untuk mengalihkan pembicaraan yang terasa beku ini dia pun berkata "Tante Omi informatif banget ya...", dengan nada yang disemangat-semangati aku pun menanggapi "Oh, ya...begitulah orangnya dari dulu, penuh semangat," kataku. Padahal, jika mau jujur, aku sangat ingin bertanya kepadanya 'Lalu, apa tanggapanmu ? Apa kamu mau dijodohkan denganku ?' Agh ! lagi-lagi aku kesal pada kebisuan mulut ini.
Hari ke-3, di tempat latihan, aku dan dia baru saja dari simpang empat sebuah jalan tidak jauh dari lokasi latihan kami. Di sana kami belajar menguatkan mental mereka, sekaligus meningkatkan kebugaran badan. Setelah berlari dan berjalan cukup jauh, baru saja kami masuk gerbang sekolah, dia pamit untuk membeli minuman. Sementara aku dan yang lain menunggu dia kembali, aku pun berlatih kembali. Tidak lama, dia datang membawa sekantung air minum dan beberapa jajanan. Kami menikmati kesejukan air minum yang terasa di tenggorokan dan menikmati jajanan yang dibawanya. Di sela kesenangan itu, salah satu dari adik-adik itu berkata "Kok Kakak tidak romantis sih nawarin makanannya ?" Aku sedikit kaget mendengarnya dan malu, memang baru saja dia menawariku jajanan yang sedang dipegangnya untukku. "Begini nih cara yang benar," adik itu menyuapi teman di sebelahnya, aku semakin malu dan hanya tersenyum malu, sedangkan dia tidak berkata apa-apa. Mungkin, di mata mereka kami ini sepasang kekasih. Sementara aku masih menahan malu dan dia tidak berkata apa-apa, salah satu dari mereka angkat bicara juga "Kak, siapa perempuan yang di photo wisuda Kakak, yang di facebook ?" katanya bertanya pada dia, dia tidak menjawab, mungkin tidak mau menjawab atau tidak mendengar pertanyaan itu, karena suasana waktu itu memang sedang ramai oleh omongan yang lain. Aku Sendiri ingin menjawab semua itu 'Hei ! kami hanya sahabat, sebatas sahabat. Dan perempuan di photo bersamanya itu mantannya, oke !' Aku memekik dalam hati. Heh, ini membuatku lelah menahan perasaan ini, bagaimana nanti...Aku juga ingin tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar