INI
ADALAH ...
Oleh:
Fajar Early
Sinopsis
Lakon ini tidak seperti lakon biasanya. Lakon ini lebih
mengandalkan gerak dan gimik. Artinya lakon ini tidak menggunakan dialog, hanya
penanda gerakan seperti gumaman atau teriakan.
Lakon ini menceritakan cerita sehari-hari masyarakat
dengan tingkat sosial dan ekonomi rendah. Namun, untuk membandingkan diri
mereka dengan seorang yang mampu, maka dimunculkan seorang pemuda kaya. Melihat
mereka dalam satu tempat dengan status sosial yang berbeda mempermudah kita
melihat perbedaan yang mencolok, akan tetapi satu hal yang sama dalam diri mereka
yaitu kemalasan dan kemalangan. Kemalasan mereka untuk berfikir, sehingga
menjadi sebuah kemalangan. Mereka hanya menjalani rutinitas begitu-begitu saja.
Pemuda yang dimunculkan adalah contoh seseorang dengan
status sosial di atas rata-rata menjadi orang malang karena kemalasan. Pada
akhirnya mereka tidak ada bedanya, baik dari penampilan atau status sosial. Pemuda
itu pun dtertawakan, karena orang hidup bergerak maju, sedangkan dia hidup
bergerak mundur. Hanya tertawalah yang membuat semuanya menjadi hilang, tawa
kegilaan.
Para
Lakon:
1. Pemuda
Perlente
2. Orang
Gila
3. Laki-laki
Pemabuk
4. Suami
5. Istri
6. Ibu
Muda
7. Laki-laki
Misterius
8. Pemulung
9. Anak
Gembel 1
10. Anak
Gembel 2
11. Anak
Gembel 3
12. Ibu
Penjual Keliling
Lampu
panggung menyala perlahan, bersamaan dengan itu terdengar tangisan bayi seperti
kelaparan. Seorang ibu muda ke luar dari salah satu rumah kardus sedang
menggendong bayinya, sedang bayi itu masih menangis. Si ibu muda terus mencoba
menenangkan anaknya. Sementara itu, di rumah kardus yang lainnya terdengar
rintihan seorang perempuan, semakin lama semakin keras suaranya mengalahkan
suara tangisan si bayi. Beberapa kali terdengar benda-benda terjatuh ataupun
dilemparkan. Dari rumah kardus yang lainnya, seorang perempuan tersungkur ke
luar, ia menangis sejadi-jadinya. Ibu muda yang masih menggendong bayinya
terkejut, melihat ke arah si perempuan yang tergeletak di lantai, menyadari apa
yang sedang terjadi ibu muda itu masuk ke rumah kardusnya. Baru saja ibu muda
itu masuk, dari rumah kardus si perempuan ke luar laki-laki yang terlihat penuh
amarah, dialah suami si perempuan. Suami memukuli si istri dengan penuh nafsu,
tidak puas dengan beberapa pukulan yang dilayangkan, si suami melempari si
istri dengan benda apapun yang ditemukannya. Keributan yang terjadi ketika itu
membuat seorang pemulung terbangun dari sebuah gerobak miliknya. Ia mengucek
mata beberapa kali untuk mencari apa yang membuatnya terbangun. Setelah melihat
apa yang terjadi di depan matanya, ia pun segera pergi tidak mau terlibat dalam
masalah suami-istri itu. Sedang si suami pergi begitu saja setelah merasa puas.
Setelah si suami pergi, perempuan itu masih dalam tangisan kesakitan, ia
berusaha keras mengambil posisi duduk. Perempuan (istri) mengusap sisa air
matanya, lalu menggeret tubuhnya ke pojokan rumah kardusnya, ia bersender
lemah, membuang semua sakitnya, mengelus-elus bagian tubuhnya yang sakit, lama-lama
ia pun terpejam membuat suasana panggung sunyi. Kesunyian pecah oleh tawa
seorang laki-laki. Masuklah sosok laki-laki dengan badan terhuyung-huyung,
sesekali tersenyum dan tertawa sendiri. Matanya memandang sayu, melihat-lihat
sekelilingnya. Laki-laki mabuk itu berjalan ke salah satu pojokan rumah kardus,
behadap-hadapan dengan dinding kardus. Beberapa saat kemudian mengucur air seninya
membasahi dinding kardus, ia pun terkekeh puas. Setelah selesai membuang
hajatnya, laki-laki mabuk itu pergi dan meninggalkan si perempuan yang masih
terpejam dipojokan menemani kesunyian. Perlahan lampu panggungpun padam.
Lampu
panggung kembali menyala dalam suasana keramaian. Dua anak gembel terlihat
asyik dengan permainan mereka. Ibu muda duduk di depan rumah kardusnya sambil
menyuapi bayinya. Anak gembel lainnya datang membawa karung berisi
plastik-plastik bekas. Dua anak gembel yang melihatnya datang langsung
mengajaknya untuk bergabung dengan mereka, memainkan permainan yang sedang
mereka mainkan. Dari arah yang sama datang juga pemuda dengan pakaian rapi dan
bersih, jauh berbeda dengan anak-anak gembel mauapun ibu muda itu. Pemuda itu
berjalan sangat hati-hati, apalagi setelah melihat anak-anak gembel yang sedang
memandang asing padanya. Baru beberapa langkah berjalan, anak-anak gembel itu
mengikutinya, ingin melihat lebih dekat siapakah pemuda itu, salah satu anak
gembel menyentuhnya, pemuda itu lantas terkejut dan sepontan menghindar. Sekali
diusir anak-anak gembel itu tidak mau menyingkir, maka si pemuda mengusir
mereka lebih keras lagi, tiga anak gembel itu pun berlarian, sesaat mereka
kembali lagi dan melanjutkan permainan mereka tanpa mempedulikan keberadaan si
pemuda perlente yang sekarang duduk di sebuah bangku. Pemuda itu duduk santai
dengan sombongnya, mengeluarkan telpon genggam dari saku celananya, melihat
beberapa saat, lalu tersenyum. Masih dalam kesibukan masing-masing, muncul laki-laki
tanpa baju, ia sebentar tersenyum, sebentar lagi tertawa atau bergumam tak
jelas. Anak-anak gembel yang melihat kehadirannya langsung menggodanya, laki-laki
gila itu sepertinya tak suka. Ibu muda memberi isyarat kepada anak-anak gembel
itu untuk berhenti menggoda laki-laki gila. Anak-anak gembel itu terlihat tidak
puas untuk menggoda si laki-laki gila, mereka hanya bisa pasrah dengan
peringatan si ibu muda. Sedang si laki-laki gila berjalan ke arah si pemuda. Melihat
telpon genggam si pemuda laki-laki gila itu tertawa girang lalu berubah
penasaran. Dia mencoba memegang benda itu dan berhasil disentuhnya, lantas
pemuda itu tidak senang dengan tingkah si laki-laki gila yang mencoba
mengganggunya, ia pun mengusirnya. Laki-laki gila itu hanya tertawa dan berlari
setelah si pemuda mencoba melemparnya. Laki-laki gila itu kembali setelah
beberapa saat yang lalu dia diusir oleh si pemuda. Dia memegang sebuah potongan
kardus berbentuk persegi panjang, memencet-mencetnya, meniru apa yang dilakukan
si pemuda. Sementara itu, si pemuda kembali membuat laki-laki gila itu tertarik
untuk mendekat setelah melihat benda yang dikeluarkan oleh si pemuda dari
tasnya. Sebuah headphone yang
dikenakan si pemuda membuat laki-laki gila itu kembali penasaran, dengan
gayanya yang cengengesan, ia berusaha menyentuh benda itu, pemuda itu langsung
menepisnya. Merasa terganggu dengan tingkah si laki-laki gila, pemuda itu
mengeluarkan benda yang sama dengan ukuran yang lebih kecil, memakaikannya pada
laki-laki gila itu sehingga dia cepat pergi dari hadapannya. Benar saja, si
laki-laki gila itu pun pergi setelah puas dengan apa yang didapatnya, ia pergi
dengan meniru gaya si pemuda, mengangguk-anggukkan kepalanya seakan menikmati
apa yang sedang dilakukannya.
Pemuda
itu terlihat bosan dengan kegiatannya, ia membongkar isi tasnya dan
mengeluarkan beberapa makanan, memilah-milih mana yang menggugah selera
makannya. Sebuah bungkusan dibukanya dan memakan isinya dengan lahap. Di sisi
lain, anak-anak gembel itu memperhatikan si pemuda yang sedang melahap
makanannya suap demi suap. Setiap kali pemuda itu membuka mulutnya, mulut
anak-anak gembel itu pun ikut menganga, seperti ingin merasakan apa yang sedang
dirasakan si pemuda, bahkan salah satu dari mereka sampai mengusap air liurnya.
Sadar diperhatikan oleh anak-anak gembel itu, si pemuda melemparkan beberapa
makanan ke arah mereka. Anak-anak gembel itu langsung berebut, saling
tarik-menarik dan dorong. Setelah mendapatkan bagian mereka masing-masing,
berlarilah mereka ke segala arah, menikmati makanan yang mereka dapatkan
seakan-akan tak mau ada orang lain melihat makanan mereka sebelum habis
dimakan. Pemuda itu tertawa mengejek akan kelakuan anak-anak gembel yang
berebut. Sedang ibu muda yang sedari tadi menyuapi anaknya merasa terganggu
dengan keributan yang ditimbulkan anak-anak itu, ia pun masuk ke rumah
kardusnya. Dari rumah kardus yang satunya, ke luar seorang perempuan masih
dengan wajah penuh luka, ia mengendap-endap, matanya waspada melihat
sekelilingnya, berjalan menjauh dari rumah kardusnya, semakin lama langkahnya
semakin cepat.
Makanan
yang baru setengah dimakannya dibuang begitu saja oleh si pemuda. Si pemuda
kembali membongkar isi tasnya, mengeluarkan beberapa buku, membolak-baliknya
sebentar lalu dilemparkan. Anak-anak gembel yang masih bercokol di sana kembali
berebut, setelah mendapatkan bagian mereka, berpencar lagi mereka takut
miliknya diambil, saling melirik milik temannya, salah satu dari mereka merebut
milik temannya yang lain dan berlari kencang, akhirnya anak gembel yang lain
ikut berlari mengejar. Pemuda itu kembali tertawa lebih mengejek lagi, dia
mengelengkan kepala tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Pemuda itu
menggeliat tanda bosan, melihat-lihat ke segala arah lalu menguap,
mengusap-usap tempat duduknya, lalu berbaring, setelah merebahkan kepalanya
matanya pun terpejam. Namun, baru saja dia memejamkan mata, laki-laki pemabuk
itu datang dengan gumaman tak jelas, meneguk sisa minumannya, berjalan
terhuyung-huyung, beberapa kali hampir terjatuh. Seperti sebelumnya ia
melihat-lihat sekelilingnya sambil menyunggingkan senyum tak jelas, berjalan ia
ke pojok rumah kardus yang sama, mengucurlah air seninya. Laki-laki pemabuk
tertawa lalu bergumam tak jelas menunggu air seninya habis dikeluarkan, setelah
itu dia pergi dengan biasa lagi. Pemuda yang baru tertidur, kini terbangun
karena mencium bau menyengat, ia menutup hidungnya tak tahan menahan bau. Dari
arah yang sama dengan masuknya si pemabuk, datang laki-laki berjalan santai,
tapi matanya seperti waspada memeriksa keadaan. Dibuangnya puntung rokok yang
hanya tinggal 3 senti saja dari mulutnya. Pemuda itu memperhatikan tingkah si
laki-laki misterius dengan wajah curiga karena laki-laki misterius itu masuk
dengan hati-hati ke rumah kardus ibu muda. Beberapa saat dia ke luar dengan membawa
bayi si ibu muda, pemuda itu tertegun dengan apa yang dilihatnya, matanya
dengan mata si laki-laki misterius bertemu sejenak dan laki-laki itu berlari.
Melihat si laki-laki membawa si bayi, pemuda itu mengejarnya. Panggung menjadi
sunyi senyap, lampu panggungpun mati seketika.
Lampu
panggung menyala perlahan masih pada panggung yang sama, namun sepi oleh
penghuni, lama tidak satu pun yang terlihat masuk ataupun ke luar. Tiba-tiba
suara langkah-langkah orang berlari terdengar dari salah satu sisi panggung,
pemuda muncul dengan keadaan yang kumel, ia tersungkur ke lantai, ada sebuah
kue di genggamannya, dari arah yang sama seorang ibu datang dengan tergesa-gesa
menghampiri lpemuda yang sedang memakan kue digemggamannya. Ibu itu terlihat
marah sekali dengan si pemuda dan memukul si pemuda dengan beberapa tendangan,
mengambil kue dari si pemuda. Melihat kue yang sudah dimakan setengah, ibu itu
makin naik pitam, ia kembali memukul si pemuda dan melemparkan kue itu ke arah
si pemuda. Masih dalam keadaan yang kesal, ibu itu meninggalkan si pemuda.
Merasa ibu itu sudah jauh, si pemuda mencari kuenya tadi, memakan sisanya.
Sementara si pemuda sedang menikmati kuenya, datang lagi laki-laki pemabuk, dia
terlihat agak kesal sampai-sampai tidak melihat ada si pemuda di depannya,
tubuhnya tersungkur jatuh karena langkahnya terganjal kaki si pemuda, lantas
dia naik pitam, matanya melototi si pemuda, sedang si pemuda tidak
memperhatikannya karena asyik menikmati kuenya. Beberapa pukulan melayang di
wajah si pemuda, tidak ketinggalan tendangan yang keras dari si laki-laki
pemabuk itu. Pemuda itu tergolek lemah, membalik badannya hingga ke posisi
terlentang, dia kesal, berteriak entah pada siapa. Dalam raungan kesal dan
kesakitan si pemuda, datanglah laki-laki gila dengan wajah sebentar sedih,
sebentar tertawa sam pai ia melihat si pemuda sedang terkapar di lantai.
Laki-laki gila memperhatikan si pemuda, lalu tertawa keras. Tawanya menggema di
seluruh panggung tak henti-hentinya, sampai ia terduduk memegang perutnya yang
seperti sakit dirasanya karena tawanya. Tawa itu pun hilang seraya lampu
panggung yang pelan-pelan buram dan mati.
SELESAI

Tidak ada komentar:
Posting Komentar