Jumat, 31 Oktober 2014

Naskah tapa dialog

INI ADALAH ...
Oleh: Fajar Early
 Sinopsis
     Lakon ini tidak seperti lakon biasanya. Lakon ini lebih mengandalkan gerak dan gimik. Artinya lakon ini tidak menggunakan dialog, hanya penanda gerakan seperti gumaman atau teriakan.
      Lakon ini menceritakan cerita sehari-hari masyarakat dengan tingkat sosial dan ekonomi rendah. Namun, untuk membandingkan diri mereka dengan seorang yang mampu, maka dimunculkan seorang pemuda kaya. Melihat mereka dalam satu tempat dengan status sosial yang berbeda mempermudah kita melihat perbedaan yang mencolok, akan tetapi satu hal yang sama dalam diri mereka yaitu kemalasan dan kemalangan. Kemalasan mereka untuk berfikir, sehingga menjadi sebuah kemalangan. Mereka hanya menjalani rutinitas begitu-begitu saja.
       Pemuda yang dimunculkan adalah contoh seseorang dengan status sosial di atas rata-rata menjadi orang malang karena kemalasan. Pada akhirnya mereka tidak ada bedanya, baik dari penampilan atau status sosial. Pemuda itu pun dtertawakan, karena orang hidup bergerak maju, sedangkan dia hidup bergerak mundur. Hanya tertawalah yang membuat semuanya menjadi hilang, tawa kegilaan.

Para Lakon:
1.      Pemuda Perlente
2.      Orang Gila
3.      Laki-laki Pemabuk
4.      Suami
5.      Istri
6.      Ibu Muda
7.      Laki-laki Misterius
8.      Pemulung
9.      Anak Gembel 1
10.  Anak Gembel 2
11.  Anak Gembel 3
12.  Ibu Penjual Keliling


Lampu panggung menyala perlahan, bersamaan dengan itu terdengar tangisan bayi seperti kelaparan. Seorang ibu muda ke luar dari salah satu rumah kardus sedang menggendong bayinya, sedang bayi itu masih menangis. Si ibu muda terus mencoba menenangkan anaknya. Sementara itu, di rumah kardus yang lainnya terdengar rintihan seorang perempuan, semakin lama semakin keras suaranya mengalahkan suara tangisan si bayi. Beberapa kali terdengar benda-benda terjatuh ataupun dilemparkan. Dari rumah kardus yang lainnya, seorang perempuan tersungkur ke luar, ia menangis sejadi-jadinya. Ibu muda yang masih menggendong bayinya terkejut, melihat ke arah si perempuan yang tergeletak di lantai, menyadari apa yang sedang terjadi ibu muda itu masuk ke rumah kardusnya. Baru saja ibu muda itu masuk, dari rumah kardus si perempuan ke luar laki-laki yang terlihat penuh amarah, dialah suami si perempuan. Suami memukuli si istri dengan penuh nafsu, tidak puas dengan beberapa pukulan yang dilayangkan, si suami melempari si istri dengan benda apapun yang ditemukannya. Keributan yang terjadi ketika itu membuat seorang pemulung terbangun dari sebuah gerobak miliknya. Ia mengucek mata beberapa kali untuk mencari apa yang membuatnya terbangun. Setelah melihat apa yang terjadi di depan matanya, ia pun segera pergi tidak mau terlibat dalam masalah suami-istri itu. Sedang si suami pergi begitu saja setelah merasa puas. Setelah si suami pergi, perempuan itu masih dalam tangisan kesakitan, ia berusaha keras mengambil posisi duduk. Perempuan (istri) mengusap sisa air matanya, lalu menggeret tubuhnya ke pojokan rumah kardusnya, ia bersender lemah, membuang semua sakitnya, mengelus-elus bagian tubuhnya yang sakit, lama-lama ia pun terpejam membuat suasana panggung sunyi. Kesunyian pecah oleh tawa seorang laki-laki. Masuklah sosok laki-laki dengan badan terhuyung-huyung, sesekali tersenyum dan tertawa sendiri. Matanya memandang sayu, melihat-lihat sekelilingnya. Laki-laki mabuk itu berjalan ke salah satu pojokan rumah kardus, behadap-hadapan dengan dinding kardus. Beberapa saat kemudian mengucur air seninya membasahi dinding kardus, ia pun terkekeh puas. Setelah selesai membuang hajatnya, laki-laki mabuk itu pergi dan meninggalkan si perempuan yang masih terpejam dipojokan menemani kesunyian. Perlahan lampu panggungpun padam.
Lampu panggung kembali menyala dalam suasana keramaian. Dua anak gembel terlihat asyik dengan permainan mereka. Ibu muda duduk di depan rumah kardusnya sambil menyuapi bayinya. Anak gembel lainnya datang membawa karung berisi plastik-plastik bekas. Dua anak gembel yang melihatnya datang langsung mengajaknya untuk bergabung dengan mereka, memainkan permainan yang sedang mereka mainkan. Dari arah yang sama datang juga pemuda dengan pakaian rapi dan bersih, jauh berbeda dengan anak-anak gembel mauapun ibu muda itu. Pemuda itu berjalan sangat hati-hati, apalagi setelah melihat anak-anak gembel yang sedang memandang asing padanya. Baru beberapa langkah berjalan, anak-anak gembel itu mengikutinya, ingin melihat lebih dekat siapakah pemuda itu, salah satu anak gembel menyentuhnya, pemuda itu lantas terkejut dan sepontan menghindar. Sekali diusir anak-anak gembel itu tidak mau menyingkir, maka si pemuda mengusir mereka lebih keras lagi, tiga anak gembel itu pun berlarian, sesaat mereka kembali lagi dan melanjutkan permainan mereka tanpa mempedulikan keberadaan si pemuda perlente yang sekarang duduk di sebuah bangku. Pemuda itu duduk santai dengan sombongnya, mengeluarkan telpon genggam dari saku celananya, melihat beberapa saat, lalu tersenyum. Masih dalam kesibukan masing-masing, muncul laki-laki tanpa baju, ia sebentar tersenyum, sebentar lagi tertawa atau bergumam tak jelas. Anak-anak gembel yang melihat kehadirannya langsung menggodanya, laki-laki gila itu sepertinya tak suka. Ibu muda memberi isyarat kepada anak-anak gembel itu untuk berhenti menggoda laki-laki gila. Anak-anak gembel itu terlihat tidak puas untuk menggoda si laki-laki gila, mereka hanya bisa pasrah dengan peringatan si ibu muda. Sedang si laki-laki gila berjalan ke arah si pemuda. Melihat telpon genggam si pemuda laki-laki gila itu tertawa girang lalu berubah penasaran. Dia mencoba memegang benda itu dan berhasil disentuhnya, lantas pemuda itu tidak senang dengan tingkah si laki-laki gila yang mencoba mengganggunya, ia pun mengusirnya. Laki-laki gila itu hanya tertawa dan berlari setelah si pemuda mencoba melemparnya. Laki-laki gila itu kembali setelah beberapa saat yang lalu dia diusir oleh si pemuda. Dia memegang sebuah potongan kardus berbentuk persegi panjang, memencet-mencetnya, meniru apa yang dilakukan si pemuda. Sementara itu, si pemuda kembali membuat laki-laki gila itu tertarik untuk mendekat setelah melihat benda yang dikeluarkan oleh si pemuda dari tasnya. Sebuah headphone yang dikenakan si pemuda membuat laki-laki gila itu kembali penasaran, dengan gayanya yang cengengesan, ia berusaha menyentuh benda itu, pemuda itu langsung menepisnya. Merasa terganggu dengan tingkah si laki-laki gila, pemuda itu mengeluarkan benda yang sama dengan ukuran yang lebih kecil, memakaikannya pada laki-laki gila itu sehingga dia cepat pergi dari hadapannya. Benar saja, si laki-laki gila itu pun pergi setelah puas dengan apa yang didapatnya, ia pergi dengan meniru gaya si pemuda, mengangguk-anggukkan kepalanya seakan menikmati apa yang sedang dilakukannya.
Pemuda itu terlihat bosan dengan kegiatannya, ia membongkar isi tasnya dan mengeluarkan beberapa makanan, memilah-milih mana yang menggugah selera makannya. Sebuah bungkusan dibukanya dan memakan isinya dengan lahap. Di sisi lain, anak-anak gembel itu memperhatikan si pemuda yang sedang melahap makanannya suap demi suap. Setiap kali pemuda itu membuka mulutnya, mulut anak-anak gembel itu pun ikut menganga, seperti ingin merasakan apa yang sedang dirasakan si pemuda, bahkan salah satu dari mereka sampai mengusap air liurnya. Sadar diperhatikan oleh anak-anak gembel itu, si pemuda melemparkan beberapa makanan ke arah mereka. Anak-anak gembel itu langsung berebut, saling tarik-menarik dan dorong. Setelah mendapatkan bagian mereka masing-masing, berlarilah mereka ke segala arah, menikmati makanan yang mereka dapatkan seakan-akan tak mau ada orang lain melihat makanan mereka sebelum habis dimakan. Pemuda itu tertawa mengejek akan kelakuan anak-anak gembel yang berebut. Sedang ibu muda yang sedari tadi menyuapi anaknya merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan anak-anak itu, ia pun masuk ke rumah kardusnya. Dari rumah kardus yang satunya, ke luar seorang perempuan masih dengan wajah penuh luka, ia mengendap-endap, matanya waspada melihat sekelilingnya, berjalan menjauh dari rumah kardusnya, semakin lama langkahnya semakin cepat.
Makanan yang baru setengah dimakannya dibuang begitu saja oleh si pemuda. Si pemuda kembali membongkar isi tasnya, mengeluarkan beberapa buku, membolak-baliknya sebentar lalu dilemparkan. Anak-anak gembel yang masih bercokol di sana kembali berebut, setelah mendapatkan bagian mereka, berpencar lagi mereka takut miliknya diambil, saling melirik milik temannya, salah satu dari mereka merebut milik temannya yang lain dan berlari kencang, akhirnya anak gembel yang lain ikut berlari mengejar. Pemuda itu kembali tertawa lebih mengejek lagi, dia mengelengkan kepala tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya. Pemuda itu menggeliat tanda bosan, melihat-lihat ke segala arah lalu menguap, mengusap-usap tempat duduknya, lalu berbaring, setelah merebahkan kepalanya matanya pun terpejam. Namun, baru saja dia memejamkan mata, laki-laki pemabuk itu datang dengan gumaman tak jelas, meneguk sisa minumannya, berjalan terhuyung-huyung, beberapa kali hampir terjatuh. Seperti sebelumnya ia melihat-lihat sekelilingnya sambil menyunggingkan senyum tak jelas, berjalan ia ke pojok rumah kardus yang sama, mengucurlah air seninya. Laki-laki pemabuk tertawa lalu bergumam tak jelas menunggu air seninya habis dikeluarkan, setelah itu dia pergi dengan biasa lagi. Pemuda yang baru tertidur, kini terbangun karena mencium bau menyengat, ia menutup hidungnya tak tahan menahan bau. Dari arah yang sama dengan masuknya si pemabuk, datang laki-laki berjalan santai, tapi matanya seperti waspada memeriksa keadaan. Dibuangnya puntung rokok yang hanya tinggal 3 senti saja dari mulutnya. Pemuda itu memperhatikan tingkah si laki-laki misterius dengan wajah curiga karena laki-laki misterius itu masuk dengan hati-hati ke rumah kardus ibu muda. Beberapa saat dia ke luar dengan membawa bayi si ibu muda, pemuda itu tertegun dengan apa yang dilihatnya, matanya dengan mata si laki-laki misterius bertemu sejenak dan laki-laki itu berlari. Melihat si laki-laki membawa si bayi, pemuda itu mengejarnya. Panggung menjadi sunyi senyap, lampu panggungpun mati seketika.
Lampu panggung menyala perlahan masih pada panggung yang sama, namun sepi oleh penghuni, lama tidak satu pun yang terlihat masuk ataupun ke luar. Tiba-tiba suara langkah-langkah orang berlari terdengar dari salah satu sisi panggung, pemuda muncul dengan keadaan yang kumel, ia tersungkur ke lantai, ada sebuah kue di genggamannya, dari arah yang sama seorang ibu datang dengan tergesa-gesa menghampiri lpemuda yang sedang memakan kue digemggamannya. Ibu itu terlihat marah sekali dengan si pemuda dan memukul si pemuda dengan beberapa tendangan, mengambil kue dari si pemuda. Melihat kue yang sudah dimakan setengah, ibu itu makin naik pitam, ia kembali memukul si pemuda dan melemparkan kue itu ke arah si pemuda. Masih dalam keadaan yang kesal, ibu itu meninggalkan si pemuda. Merasa ibu itu sudah jauh, si pemuda mencari kuenya tadi, memakan sisanya. Sementara si pemuda sedang menikmati kuenya, datang lagi laki-laki pemabuk, dia terlihat agak kesal sampai-sampai tidak melihat ada si pemuda di depannya, tubuhnya tersungkur jatuh karena langkahnya terganjal kaki si pemuda, lantas dia naik pitam, matanya melototi si pemuda, sedang si pemuda tidak memperhatikannya karena asyik menikmati kuenya. Beberapa pukulan melayang di wajah si pemuda, tidak ketinggalan tendangan yang keras dari si laki-laki pemabuk itu. Pemuda itu tergolek lemah, membalik badannya hingga ke posisi terlentang, dia kesal, berteriak entah pada siapa. Dalam raungan kesal dan kesakitan si pemuda, datanglah laki-laki gila dengan wajah sebentar sedih, sebentar tertawa sam pai ia melihat si pemuda sedang terkapar di lantai. Laki-laki gila memperhatikan si pemuda, lalu tertawa keras. Tawanya menggema di seluruh panggung tak henti-hentinya, sampai ia terduduk memegang perutnya yang seperti sakit dirasanya karena tawanya. Tawa itu pun hilang seraya lampu panggung yang pelan-pelan buram dan mati.

SELESAI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KSB 2019