Rabu, 23 Oktober 2013



HANTU
Oleh: Fajar Early
ADEGAN 1
LAMPU MENYALA PERLAHAN DI TENGAH PANGGUNG, TERLIHAT SEORANG PEREMPUAN DUDUK DI SEBUAH BANGKU, IA MENGHADAP KE LANGIT-LANGIT DENGAN HAMPA. LAMA IA DUDUK DI SANA, TERDENGAR SUARA SENANDUNG DARI BIBIRNYA.
Matahari kini tak sama dengan yang dulu
Matanya merah seperti marah padaku
Hingga sinarnya tak mau dekat denganku
PEREMPUAN ITU MENANGIS, MENUTUP WAJAHNYA DENGAN KEDUA TELAPAK TANGANNYA. SEMAKIN LAMA TANGISNYA SEMAKIN PILU DAN MENGHILANG. PEREMPUAN ITU BERSENANDUNG LAGI.
Jika waktu bisa berputar, akan kuputar ke masa lalu
LAMPU PERLAHAN MATI SEIRING DENGAN BERAKHIRNYA SENANDUNG PEREMPUAN ITU.
ADEGAN 2
LAMPU MENYALA KEMBALI, TERLIHAT SEBUAH JALAN DI PERKAMPUNGAN. PAGAR BATAS JALAN TERLIHAT DI KIRI DAN KANAN PANGGUNG. BEBERAPA POHON DIHADIRKAN UNTUKMENDAPATKAN SUASANA PERKAMPUNGAN YANG ASRI. SUARA BURUNG YANG BERSAHUTAN MENANDAKAN PAGI YANG CERAH, TAMPAK TIGA SISWA MEMASUKI PANGGUNG, SALAH SATU DI ANTARANYA MENGHENTIKAN JALANNYA.
SARI: “Mae ada apa ?”
JENAP: “Ya Mae, ada apa ?”
MAESAROH: “Kalian belum dengar kalau di sini ada hantunya ?”
SARI + JENAP: “Iiiiih...”
SARI: “Tapi, mana ada hantu pagi-pagi begini ?”
JENAP: “Benar tuh, huh...untung saja.” (Mengelus-elus dadanya)
MAESAROH: “Aku dengar dari Roni. Katanya, kemarin dia berangkat sekolah lewat jalan ini, tiba-tiba ada sosok hantu perempuan menghampirinya dan ...”
SARI + JENAP: “Aaaaaggghhh,” (Berlari ke luar panggung).
MAESAROH: “Woi, tunggu ! Aku jangan ditinggal dong.” (Mengejar dua temanya ke luar panggung).
LAMPU PANGGUNG MATI DIIRINGI SUARA TAWA PEREMPUAN.
ADEGAN 3
LAMPU MENYALA KEMBALI, SEBUAH BANGKU TAMAN TERLIHAT DI SALAH SATU SISI PANGGUNG. SARI DAN JENAP MEMASUKI PANGGUNG DENGAN TERENGAH-ENGGAH, MAESAROH MENGIKUTI MEREKA DI BELAKANG.
MAESAROH: “Tunggu. Kalian cepat sekali larinya. Lagian kalau mau kabur bilang-bilang dong.” (Dengan nada terengah-enggah).
SARI: “Memang ada orang mau kabur pakai bilang dulu ?”
JENAP: “Kamu sih Mae, pagi-pagi sudah cerita yang serem-serem. Jadinya keringetan begini, mana haus lagi. Sar, kamu bawa minum kan ?”
SARI: “Oh ya bawa, nih,tapi jangan dihabiskan ya.” (Memberikan sebotol minuman ke Jenap).
MAESAROH: “Nap, bagi dong.”
SARI: “Mae, beneran si Roni ngeliat hantu ? Siapa tau dia salah lihat.”
JENAP: “Ya, siapa tau itu hanya hayalannya si Roni akibat kebanyakan nonton film horor.”
MAESAROH: “Alah, kalian hanya bisa ngomong, denger kata hantu saja langsung ngiber.”
JENAP: “Itu namanya refleks.”
MAESAROH: “Refleks apaan ? Bilang saja takut.”
MAESAROH + SARI: “Hahahahaha.”
JENAP: “Jangan ngeledek deh, Sar kamu bukannya lari duluan ?”
MAESAROH: “Hahahahahaha, kalian lucu banget. Astagfirullahal’azim !” (Melihat jam tangannya).
JENAP: “Ada apa Mae ?Jangan nakutin gitu deh.”
SARI: “Ya Mae, jangan bikin takut lagi dong.”
MAESAROH: “Bukan nakut-nakutin, coba lihat ini jam berapa ?”
SARI + JENAP: “Tujuh.”
SARI: “Lalu ?”
MAESAROH: “Lalu, lalu, lalulintas. Kita telaaaaaaat !” (Lari ke luar panggung).
SARI + JENAP: “Apa ?” (Saling berpandangan)
SARI: “Lariiiiiii.” (Lari ke luar panggung mengikuti Maesaroh).
ADEGAN 4
LAMPU PANGGUNG MENYALA KEMBALI DENGAN SETTING PANGGUNG YANG SAMA, SEORANG ANAK LAKI-LAKI BERJALAN SANTAI, DARI BELAKANG MAESAROH TERLIHAT BERJALAN TERBURU-BURU MENGEJAR ANAK LAKI-LAKI ITU.
MAESAROH: “Ron, Roni.
RONI: “Ada apa Mae ?” (Menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakangnya).
MAESAROH: “Aku mau memastikan saja, apa benar yang kamu lihat tempo hari adalah hantu ?”
RONI: “Oh, jadi kamu menganggap aku bohong ?”
MAESAROH: “Bukan begitu Ron, masalahnya waktu itu kan masih pagi, memangnya hantu berkeliaran di pagi hari, tidak kan ? Apa lagi sekarang sudah meresahkan teman-teman yang lain.”
RONI: “Hantu sekarang beda, bisa muncul kapan saja yang mereka mau. Pagi, siang, sore, apa lagi malam, terserah mereka mau ke luar kapan.”
MAESAROH: “Ckckckckck, luar biasa, itu namanya hantu gaul.”
RONI: “Sudahlah, aku pulang dulu.”
MAESAROH: “Eits, sebentar dulu Ron.” (Menghentikan langkah Roni).
RONI: “Ada apa lagi ?”
MAESAROH: “Hantunya seperti apa ?”
RONI: “Heh.” (Menghela nafas dan duduk di bangku taman). “Dia itu perempuan, rambutnya panjang. Waktu itu dia muncul dari balik pohon pinggir jalan. Sudah, aku mau pulang.”
MAESAROH: “Ron sebentar dulu....”
RONI: “Apa lagi...?”
MAESAROH: “Wajahnya seperti apa ?”
RONI: “Aduh Mae, kamu itu mau tahu sekali sih ? Aku tidak lihat wajahnya, karena ditutupi rambut, hanya matanya terlihat memandang ke arahku. Iiiiiih, aku jadi merinding. Aku pulang.” (Berjalan cepat ke luar panggung).
MAESAROH: “Eeeeh, Ron, Ron ? Yah, pergi.” (Duduk lemas di bangku taman) “Ngomong-ngomong dua cecunguk itu kok belum muncul juga ? Katanya hanya sebentar,” (Melihat ke arah ia datang tadi). “Nah, itu mereka.”
JENAP: “Maaf telat,” (Mendekati Mae dengan sedikit berlari diikuti Sari di belakangnya).
MAESAROH: “Sudah biasa, pulang yuk ?” (Berjalan hendak ke luar panggung).
SARI: “Tunggu, tunggu, tunggu. Jangan lewat jalan itu ya ?”
JENAP: “Ya Mae, aku setuju.”
MAESAROH: “Apa sih yang kalian takutkan ? Di sana tidak ada apa-apa.”
SARI: “Kamu sendiri yang bilang kalau di sana ada hantu.”
MAESAROH: “Oh, yang itu. Roni bilang salah lihat, aku baru saja ketemu dia di sini, sekarang dia sudah pulang.”
JENAP: “Lewat jalan itu ?”
MAESAROH: “Ya iyalah, mau lewat mana lagi ? Ayo, perutku sudah kelaparan, tapi kalau kalian mau diam di sini tidak apa-apa, aku pulang duluan...” (Meninggalkan Sari dan Jenap).
SARI DAN JENAP BERLARIAN MENGEJAR MAESAROH YANG SUDAH JAUH MENINGGALKAN MEREKA, LAMPU PANGGUNG PUN MATI.
ADEGAN 5
LAMPU PANGGUNG MENYALA, DI PANGGUNG TERLIHAT BEBERAPA SOFA DAN SEBUAH MEJA. SEORANG IBU DENGAN SUAMINYA SEDANG BERCENGKRAMA.
IBU: “Pak, bagaimana perkembangan si Fatma ?”
BAPAK: “Belum ketemu. Ibu Sarah sendiri bagaimana keadaannya ?”
IBU: “Masih terlihat sedih. Kasian, anak satu-satunya hilang dalam keadaan seperti itu. Mengingat masa lalu, rasanya ingin menangis juga.”
BAPAK: “Kita doakan saja, mudah-mudahan besok bisa ketemu.”
MAESAROH: “Assalamualaikum...” (Masuk panggung)
IBU: “Apa sebaiknya minta bantuan polisi juga Pak ?”
MAESAROH: “Assalamualaikum...”
BAPAK: “Rencananya besok Pak RT dan pihak dari rumah sakit mau ke kantor polisi.”
MAESAROH: “Assalamualaikum ? Bicarain apa sih, serius sekali ?”
IBU: “Sudah pulang ? Salamnya mana ?”
MAESAROH: “Sudah dari tadi Bu, malah ini yang ketiga kalinya.”
IBU: “Kok Ibu tidak denger ?”
MAESAROH: “Ibu sama Bapak keasikan ngobrol, makanya gak denger.”
IBU + BAPAK: “Waalaikumussalam...”
MAESAROH: “Jawabnya telat.”
BAPAK: “Dari pada tidak dijawab sama sekali.”
IBU: “Sudah sana ganti baju, sholat, terus makan.”
MAESAROH: (Ke luar panggung).
IBU: “Pak, besok Ibu ke rumah Bu Sarah lagi. Setidaknya bisa jadi penghibur sementara si Fatma belum ketemu.”
BAPAK: “Bagus itu, tapi jangan sampai lupa masak.”
IBU: “Pasti dong Pak, masak tega lihat anak dan suami kelaparan.”
LAMPU PANGGUNG MATI DAN MENYALA KEMBALI DENGAN SETTING PANGGUNG YANG SAMA. IBU BARU SAJA MASUK PANGGUNG, SEMENTARA DARI ARAH BERLAWANAN MAESAROH MASUK PANGGUNG DENGAN MEMBAWA BEBERAPA BUKU.
MAESAROH: “Bu, Mae pergi dulu.”
IBU: “Mau ke mana ?”
MAESAROH: “Ke rumah Jenap, mau ngerjain PR bareng.” (Menyalami Ibunya).
IBU: “Hati-hati, pulangnya jangan sampai kemalaman.”
MAESAROH: “Ya Bu.” (Ke luar panggung)
LAMPU PANGGUNG MATI.
ADEGAN 6
LAMPU PANGGUNG MENYALA, TERLIHAT PAGAR-PAGAR PEMBATAS JALAN DAN BEBERAPA POHON. MAESAROH DAN DUA TEMANNYA TERLIHAT MEMASUKI PANGGUNG DENGAN MEMPERHATIKAN SEKELILINGNYA.
JENAP: “Mae, kenapa mesti ke sini sih ? Pakai bohong mau ngerjain PR lagi.”
SARI: “Ya Mae, kita pulang aja yuk ?”
MAESAROH: “Baru nyampek udah mau pulang aja, gimana sih ?”(Berkeliling mencari sesuatu) “Tu kan, di sini memang tidak ada hantu.”
JENAP: “Yah Mae, kamu sendiri kan yang bilang si Roni salah lihat, ya udah emang di sini gak ada hantunya.”
MAESAROH: “Hanya memastikan saja, lagian kenapa kalian takut kalau memang tidak ada hantu? Jangan bilang refleks lagi ya ?”
BEBERAPA SAAT TERDENGAR SUARA PEREMPUAN MERINTIH.
MAESAROH: “Siapa itu ? Halo...? Ada orang di situ ?” (Mendekati sebuah pohon).
JENAP: “Tuh Mae, hantunya marah.”
SARI: “Pulang yuk ?”
TERDENGAR LAGI SUARA RINTIHAN PEREMPUAN.
MAESAROH: “Ke luar !  Jangan jadi pengecut ! Tampakkan dirimu !” (Melihat sekelilingnya), “Atau jangan-jangan memang benar hantu ?” (Bersiap-siap melarikan diri).
SARI + JENAP: “Kabuuuuuur.” (Berlarian ke lauar panggung).
FATMA: “Tunggu, aku bukan hantu” (Dari balik pohon).
MAESAROH: “Kalau bukan hantu...” (Membalik badanya).
FATMA: (Ke luar dari persembunyiannya)
MAESAROH: “Orang gi..gi..”
FATMA: “Aku bukan hantu, juga bukan orang gila.” (Mendekati Mae)
MAESAROH: “Stop, jangan mendekat.”
FATMA: “Jangan takut, aku bukan orang gila.”
MAESAROH: “Eiits, jangan dekat-dekat.”
FATMA: (Menarik tangan Mae) “Nih, kamu bisa pegang kan ? Aku bukan hantu ataupun orang gila.”
MAESAROH: “Kamu pura-pura jadi hantu ya ? Teman-temanku jadi banyak yang takut lewat sini.”
FATMA: “Bukan begitu.”
MAESAROH: “Bukan begitu bagaimana ? Tadi saja kamu coba nakut-nakutin kita kan ?”
FATMA: “Bukan, makanya dengar dulu. Suara yang tadi itu memang suaraku, tapi itu bukan dibuat-buat. Aku sakit perut, sudah dua hari gak makan.”
MAESAROH: “Dua hari gak makan ? Terus kamu ngapain di sini ? Bukannya pulang ?”
FATMA: “Aku belum bisa pulang. Dan soal teman kamu yang mengira aku hantu, itu salah paham. Aku sebenarnya mau minta makanan saja, tapi dia malah kabur duluan.”
MAESAROH: “Bagaimana orang gak takut melihat penampilan kamu seperti itu ?”
FATMA: “Makanya sekarang aku mau minta bantuan sama kamu.”
MAESAROH: “Bantuan apa ?”
FATMA: “Kamu punya makanan ? Aku lapar.”
MAESAROH: “Ayo kita ke rumahku, di sana ada beberapa makanan.”
FATMA: “Tidak bisa, untuk sekarang aku belum bisa bertemu orang lain.”
MAESAROH: “Oh, jadi kamu kabur dari rumah ? Atau jangan-jangan kamu buronan ya ?”
FATMA: “Bukanlah, ceritanya panjang.”
MAESAROH: “Sepanjang apa sih ? Aku sanggup kok mendengarkan sampai akhir.”
FATMA: “Tapi aku tidak bisa cerita dengan perut kelaparan seperti ini.”
MAESAROH: “Oke, tunggu di sini, aku carikan makanan dulu.” (Ke luar panggung).
TIDAK LAMA SETELAH ITU MAESAROH KEMBALI KE PANGGUNG.
FATMA: “Wah, cepat sekali ?”
MAESAROH: “Tapi Cuma ada jagung, kebetulan ada yang jualan deket sini.”
FATMA: “Tidak apa-apa, terima kasih banyak.” (Melahap jagung rebus dipegangnya).
MAESAROH: “Kamu namanya siapa ? Tinggal di mana ?”
FATMA: “Fatma.”
MAESAROH: “Tinggalnya ?”
FATMA: (Menunjuk ke salah satu sudut panggung)
MAESAROH: “Yang jelas dong, kampung mana, RT berapa, anaknya siapa ?”
FATMA: “Tujuh.”
MAESAROH: “RT tujuh ? Kampung sini ?”
FATMA: (Menganggukkan kepala)
MAESAROH: “Deket dengan rumahku dong ? Tapi aku kok gak pernah denger nama kamu ya ? Kamu anaknya siapa ?”
ADZAN MAGRIB BERKUMANDANG.
MAESAROH: “Wah, adzan, aku harus pulang. Bagaimana kalau kamu tinggal di rumahku untuk sementara waktu ?”
FATMA: “Tidak usah.”
MAESAROH: “Loh, kenapa ? Kalau kamu di sini terus, kamu akan mati kelaparan.”
FATMA: “Untuk saat ini aku tidak bisa ke mana-mana, banyak orang yang mencariku.”
MAESAROH: “Terserahlah, aku pulang dulu, besok aku datang lagi.”
LAMPU PANGGUNG MATI.
ADEGAN 7
LAMPU PANGGUNG MENYALA KEMBALI, SEBUAH RUANG TAMU TERLIHAT SEPI. MAESAROH MASUK KE PANGGUNG.
MAESAROH: “Assalamualaikum..., kok rumah sepi ? Assalamualaikum..., pada ke mana sih ?”
BAPAK DAN IBU MASUK PANGGUNG DAN DUDUK DI SOFA SEPERTI KELELAHAN, BEBERAPA SAAT MAESAROH MASUK PANGGUNG DARI ARAH YANG BERLAWANAN.
MAESAROH: “Bapak sama Ibu dari mana saja ?”
IBU: “Ke rumahnya Ibu Sarah.” (Ke luar panggung).
MAESAROH: “Memangnya Ibu Sarah kenapa Pak ?”
BAPAK: “Ibu Sarah sedang mendapat musibah, anaknya hilang dari rumah sakit. Bapak mau sholat dulu.” (Ke luar panggung)
IBU: (Membawa segelas kopi) “Sudah makan belum?”
MAESAROH: “Belum. Bu, Ibu tahu tidak warga sini yang namanya Fatma ?”
IBU: “Fatma yang mana ? Di sini banyak yang namanya Fatma, di RT sebelah juga ada yang namanya Fatma.”
MAESAROH: “Dia tinggal di RT 7.”
IBU: “Oh, Fatma anaknya Ibu Sarah. Dia kan lagi dicari warga karena ngilang dari rumah sakit.”
MAESAROH: “Fatma sakit apa ?”
IBU: “Kamu tidak tahu ? Dia kan sakit jiwa. Sudah dua hari dia menghilang dari rumah sakit jiwa. Mungkin dia pengen pulang, makanya warga ikut membantu mencari di sekitar sini.”
MAESAROH: “Fatma gila kenapa Bu ?”
IBU: “Tidak ada yang tahu pasti kenapa dia bisa gila, karena tiba-tiba saja dia seprti itu dan Ibunya terpaksa memasukkannya ke rumah sakit jiwa.”
MAESAROH: “Fatma itu orangnya seperti apa Bu ?”
IBU: “Dia anaknya pintar, di sekolah selalu juara, dia terkenal di kampung ini karena prestasinya. Mungkin, kalau dia tidak masuk rumah sakit jiwa, dia sudah kuliah sekarang. Tapi...”
MAESAROH: “Tapi kenapa Bu ?”
IBU: “Semenjak ada pengusaha itu ada di kampung kita, semua jadi berubah. Kamu tahu kan Pak Tirto yang punya beberapa hotel di sini ?”
MAESAROH: “Pak Tirto super pelit itu ?”
IBU: “Fatma sangat membenci Pak Tirto karena pembangunan hotel yang dilakukannya membuat beberapa petani yang ada di sini kehilangan lahan. Bahkan persediaan air di kampung ini menjadi berkurang.”
MAESAROH: “Terus warga tidak berbuat apa-apa ?”
BAPAK: (Masuk panggung) “Warga tidak bisa berbuat apa-apa, karena pembangunannya sendiri sudah disetujui oleh Pemda. Alasannya, karena daerah ini tempat wisata yang butuh jasa penginapan.”
MAESAROH: “Terus Fatma ?”
BAPAK: “Ya Fatma tidak tinggal diam, tapi karena dia masih anak SMA, warga kurang percaya dengan apa yang dilakukan, jadi hanya beberapa saja yang ikut protes ke kantor desa, bahkan ke Pemda setempat.”
MAESAROH: “Terus Pak ?”
IBU: “Terus, terus, jangan terlalu serius.”
MAESAROH: “Ini penting Bu, buat kelangsungan hajat hidup orang banyak.”
IBU: “Alah, masih kecil udah ngomongin hajat hidup orang banyak.”
MAESAROH: “Pak, boleh dilanjutkan ceritanya ?”
BAPAK: “Fatma ke sana- ke mari melakukan protes dan perlawanan, sampai suatu saat dia nekad ke kantor Pak Tirto, akhirnya terjadi keributan besar. Besoknya gantian Pak Tirto yang ke rumah Fatma. Sejak saat itu Fatma tidak terlihat, ke luar dari rumahnya pun tidak.”
MAESAROH: “Terus ?”
IBU: “Terusannya besok saja, sekarang kita ke dapur, makan.”
MAESAROH: “Yah Ibu, merusak suasana saja.”
MEREKA KE LUAR PANGGUNG DAN LAMPU PANGGUNG MATI
ADEGAN 8
LAMPU PANGGUNG MENYALA KEMBALI DI SEBUAH TAMAN. MAESAROH, JENAP, SARI, DAN RONI TERLIHAT BERBINCANG-BINCANG.
SARI: “Oh, jadi begitu ceritanya...”
RONI: “Ceritanya lanjutkan dong, yang tadi kan belum selesai.”
MAESAROH: “Memang ceritanya belum selesai, keburu dipotong sama Ibu yang ngajak makan malam. Tapi, tenang ada informannya langsung.”
JENAP: “Siapa ?”
MAESAROH: “Fatma.”
SARI + JENAP + RONI: “Fatma ?”
MAESAROH: “Pelan-pelan dong, Fatma kan sedang dicari warga. Sekarang ini dia tidak bisa pulang, jadi tidak ada yang boleh tahu dia di mana.”
RONI: “Kenapa ?”
MAESAROH: “Nah, itu yang bakal kita tanyakan ke dia dan semua yang belum jelas.”
SARI: “Jadi, sekarang kita ke tempat itu ?”
MAESAROH: “Ya dong.”
SARI: “Ok kalau begitu, lets go !”
SAAT AKAN BERANGKAT, TIBA-TIBA FATMA BERLARI KE ARAH MEREKA SEPERTI KETAKUTAN.
SARI + JENAP: “Orang gilaaaaaaa.”
MAESAROH: “Bukan, ini Fatma. Kamu kenapa ?”
RONI: “Sepertinya ada yang ngejer dia.”
LAKI-LAKI: (Masuk panggung dengan membawa sebilah golok) “Kalian lihat perempuan gila lewat sini ?”
SARI: “Gak ada, dari tadi hanya kita berempat di sini.”
JENAP: “Ya, memang memangnya Bapak mau ngapain bawa golok?”
LAKI-LAKI: “Kalian tidak perlu tahu ! Dan jangan coba-coba bohong sama saya !” (Mengangkat goloknya)
RONI: “Siapa yang bohong ? Bapak yang bohong. Bapak bawa golok buat mencelakai orang kan ?”
LAKI-LAKI: “Anak ingusan, jangan coba-coba mengertak saya. Saya bisa saja membunuh kamu, kalian semua.”
MEREKA BERLARIAN KETAKUTAN KE LUAR PANGGUNG, KECUALI FATMA DAN MAESAROH YANG BERSEMBUNYI DI BELAKANG BANGKU TAMAN.
LAKI-LAKI: “Fatma ! Ke luar kamu ! Cepat ! Jangan bersembunyi seperti tikus, mana keberanian kamu yang dulu ?! Sok pahlawan, sok jagoan. Ayo ke luar sekarang !”
RONI KEMBALI MASUK PANGGUNG BERSAMA BEBERAPA ORANG TERMASUK PAK RT.
RONI: “Pak, itu orang yang mengancam akan membunuh kami.” (Menunjuk laki-laki di depannya).
PAK RT: “Cepat tangkap orang itu.”
LAKI-LAKI ITU BERLARI KETAKUTAN KE LUAR PANGGUNG, SEDANG YANG LAIN MENGEJARNYA. SETELAH SEMUA KE LUAR PANGGUNG, MAESAROH DAN FATMA KE LUAR DARI PERSEMBUNYIAN MEREKA.
MAESAROH: “Untung saja, lebih baik sekarang kita ke rumahku, di sana kita aman.”
LAMPU MATI
ADEGAN 9
LAMPU KEMBALI MENYALA DI SEBUAH ALUN-ALUN DESA. SUARA KENTONGAN DIBUNYIKAN UNTUK MENGUMPULKAN WARGA. PAK RT, FATMA, IBU SARAH, MAESAROH DAN ORANG TUANYA SUDAH ADA DI PANGGUNG, TIDAK LAMA BEBERAPA ORANG MASUK PANGGUNG.
PAK RT: “Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara sekalian. Kita berkumpul di sini karena ada hal penting yang harus kita selesaikan. Tiga tahun lalu, Fatma anak dari Ibu Sarah mengalami ancaman dari Pak Tirto yang terhormat, sehingga...”
IBU-IBU: “Pak, jangan bertele-tele, langsung ke intinya saja kalau Pak Tirto itu sudah membodohi kita habis-habisan!”
WARGA: “Betul, betul, betul, betul....”
PAK RT: “Biar tidak terjadi kesalahpahaman lagi, maka dari itu saya jelaskan. Saya lanjutkan atau tidak ?”
BAPAK-BAPAK: “Lanjutkan saja Pak.”
PAK RT: “Baik. Jadi, Fatma sebenarnya tidak gila, namun pura-pura gila. Dia terpaksa melakukan itu untuk menghindari Pak Tirto yang mengancam akan membunuhnya gara-gara mencoba menghalangi pembangunan hotel di kampung ini. Pada kenyataannya pembengunan hotel yang dilakukan Pak Tirto menimbulkan banyak masalah di kampung kita, betul ?”
WARGA: “Betul. Bahkan air pun kini kita tak punya.”
PAK RT: “Dan baru saja, kami telah menangkap anak buah Pak Tirto yang waktu itu mencoba membunuh Fatma. Untuk lebih jelasnya, biarkan Fatma sendiri yang akan memberitahu kita semuanya.”
FATMA: “Sebelumnya saya minta maaf karena sudah menimbulkan masalah di desa ini, tapi itu saya lakukan karena saya tidak ingin desa ini menjadi rusak dan kehilangan jati dirinya. Memang benar saya diancam akan dibunuh, bahkan saya melarikan diri dari rumah sakit jiwa karena alasan yang sama, anak buah Pak Tirto mencoba membunuh saya di rumah sakit. Tertangkapnya anak buah Pak Tirto bukan mengakhiri semuanya, karena otak dari masalah ini adalah Pak Tirto.”
BAPAK-BAPAK: “Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang ?”
BAPAK: “Sebaiknya kita laporkan masalah ini ke kantor polisi, sementara waktu kita mencari keberadaan Pak Tirto yang menghilang.”
PAK RT: “Saya setuju. Saya dan beberapa warga akan ke kantor polisi, sedangkan yang lainnya mencari Pak Tirto. Fatma, sebaiknya kamu dan Ibumu sementara waktu di rumah Mae saja karena keadaan belum aman.”
MAESAROH: “Benar Fatma, kamu di rumahku saja dulu. Bolehkan Pak, Bu ?”
BAPAK + IBU: (Menganggukkan kepala).
BAPAK: “Kalau begitu mari kita pulang.”
IBU: “Mari Bu Sarah.”
MAESAROH, FATMA, BAPAK DAN IBU, BESERTA IBU SARAH MENINGGALKAN PANGGUNG, DISUSUL PAK RT DAN WARGA YANG LAINNYA. LAMPU PANGGUNG PUN MATI, BEBERAPA SAAT TERDENGAR SUARA NARATOR YANG MEMBACAKAN AKHIR DARI CERITA.
‘DUA BULAN SEBAGAI BURONAN, PAK TIRTO AKHIRNYA DITEMUKAN DAN DIMASUKKAN KE PENJARA ATAS TUDUHAN PERCOBAAN PEMBUNUHAN DAN MELAKUKAN PENIPUAN TERHADAP WARGA. WARGA MENUTUP SEMUA HOTEL MILIK PAK TIRTO, BAHKAN HOTEL YANG BARU DIBANGUNNYA.
KITA BOLEH SAJA MENCARI KEUNTUNGAN, NAMUN JANGAN SAMPAI KEUNTUNGAN ITU MERUGIKAN ORANGLAIN. JIWA BERANI ATAS KEBENARAN, BUKAN KARENA MENCARI PUJIAN ADALAH SIFAT YANG BUTUH PENGORBANAN.’

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KSB 2019