Bapak
Bapak, biarpun banyak orang yang berkata buruk.
Biarpun orang-orang membencimu, tapi kau tetap Bapakku.
Bapak, meski dulu kau mengukir luka di hati kami.
Meski kau pernah berpaling dari kami, tapi kau tetap
Bapakku.
Bapak, aku baru melihat kelembutan hatimu.
Melihat senyum di bibirmu.
Merasakan kehangat di tanganmu dan halusnya perkataanmu.
Aku melihat betapa besar cintamu padaku dan Ibu yang
pernah kau lukai.
Kemarahanmu yang dulu menjadi petaka di rumah ini,
Kini menjadi selingan canda dan tawa di setiap harinya.
Tamparan dan pukulan yang sering kau tunjukkan,
Kini menjadi pelukan hangat di kala dingin menyelimuti.
Sumpah dan serapah yang dulu sering kau lontarkan pada
Ibu,
Kini menjadi kata-kata cinta dan kasih sayang.
Tuhan telah menjawab semua kesabaran ini...
Bapak, kau kini sebagai perisai dalam hidup kami.
Memberi dan memberi apa yang kami butuhkan.
Menjadi kereta kencana dalam sebuah perjalanan.
Kau bahkan sebuah benteng terkuat untuk kami bertahan.
Mungkin kehilangan dirimu akan menjadi mimpi buruk dalam
hidupku.
Akan menjadi jurang yang dapat menjatuhkanku
sedalam-dalamnya.
Akan menjadi duka dan luka yang berkepanjangan.
Akan menjadi catatan kelam dalam buku harianku.
Tak ingin aku membayangkan itu...
Bapak, wajah tuamu tak rela kulihat.
Bukan karena benci, namun takut akan kenyataan bahwa masa
kita bersama di tempat ini tidak cukup lama.
Tuhan punya batas untuk kau dan aku bertatap muka dan
saling menyapa.
Entah kapan waktunya kau meninggalkanku atau aku yang
meninggalkanmu.
Sementara kita menunggu, bisakah keadaan ini tetap sama
bahagianya sampai nanti, bersamamu.
(Rabu, 05 Juni 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar