CERITA
TERAKHIR
OLEH: ROSALINA MARDOTIL AZIZA
Tuhan begitu baik padaku, begitu pikir Risa yang mendapat
sahabat-sahabat yang penuh kepedulian, saling menjaga, dan saling menghormati.
Risa membayangkan bagaimana jadinya jika salah satu dari mereka tidak ada. Ada
sesuatu yang kurang, seperti ada anggota tubuh yang tak lengkap ketika salah
satu tidak hadir di tengah-tengah mereka.
Risa dan sahabat-sahabatnya sudah seperti saudara. Jika
ada yang harus dihukum atas sebuah kesalahan, maka yang lain merasakan hal yang
sama. Susah, senang, bahagia, sedih, bahkan ketika sakit pun mereka rasakan
bersama.
Siang itu menjadi kenangan yang melekat di kepala Risa.
Tawa seisi kelas seperti angin sejuk yang memecah cuaca terik kala itu. Anggun
dan Willy seperti biasa memiliki seribu cara untuk menghibur teman-temannya.
Tingkah mereka yang konyol menjadi oase di tengah gurun pasir yang gersang.
Risa yang setia menjadi penonton tidak bisa menahan tawanya sejak awal.
“Inilah kita. Kita akan
hidup dengan apa yang kita inginkan, sesuai kehendak kita masing-masing, bukan
atas paksaan orang lain.” Anggun dan Willy tiba-tiba terdengar begitu bijak.
Entah dari mana mereka dapatkan kata-kata itu, seperti ke luar begitu saja dari
mulut mereka mengikuti firasat mereka sendiri.
Risa yang mendengar orasi bijak kedua temannya itu
tertegun, itulah kalimat yang hingga sekarang tercatat di otaknya. Risa bangga
dengan Anggun, meski bertingkah konyol dan sering tidak serius dalam segala
hal, nyatanya dia memiliki prinsip hidup yang ajaib.
Lain lagi dengan Deni, Dika, Beni, dan Riski yang lebih
menjadi bumbu-bumbu dari lelucon Anggun dan Willy. Mereka layaknya penambah
dalam rasa sehingga yang terjadi ketika mereka beraksi, kelas menjadi begiu
heboh tak terkendali. Risa yang duduk bersama Nabila tergoda untuk bergabung
dalam kerusuhan itu. Kelas yang dulunya aku khawatirkan, tapi sekarang berbeda,
kata Risa di tengah kebisingan itu.
Seminggu ini Risa dan teman-temannya disibukkan dengan
persiapan Hari Guru. Perayaan tahunan ini menjadi ajang unjuk kebolehan dan
kekompakkan kelas. Berbagai lomba dan kegiatan menjadi perhatian semua siswa.
Tentu saja Risa dan teman-temannya tidak mau kalah dengan kelas lain.
Bermacam-macam hiasan tergantung di beberapa tempat,
sedang anak laki-laki membuat mural di dinding kelas. Risa sendiri menyiapkan
kue dan pernak-pernik tambahan yang membuat kelas itu menjelma menjadi tempat
yang begitu berkilau. Di tengah kilauan yang terpampang, Risa memperhatikan
Riski yang sedari tadi mencari perhatian di depan Anggun. Pemandangan yang
tidak asing bagi Risa. Mungkin tidak hanya Risa yang mengetahui rahasia ini.
Riski sejak kelas tujuh memang menaruh hati pada Anggung. Sementara itu, Anggun
masih cuek-cuek saja mengetahui perasaan Riski terhadapnya.
Terkadang Risa geli sendiri melihat tingkah Riski di
hadapan Anggun. Namun hal itu tidak membuat persahabatan mereka berubah sedikit
pun. Ada janji yang tidak tertulis di antara mereka. Janji yang hanya bisa
dirasakan satu sama lain.
Kerja keras Risa dan teman-temannya membuahkan hasil,
beberapa kategori lomba mereka raih dengan menduduki peringkat satu. Bahagia
mereka tidak bisa disembunyikan. Risa bahkan hampir menangis karena terharu.
Kemenangan ini harus dirayakan pikir Risa yang ingin mengusulkannya kepada
teman-teman yang lain. Baru saja Risa ingin mengutarakan idenya, Beni sudah di
depan bersiap untuk berbicara.
“Bagaimana kalau hari
minggu kita ke pantai ?”
Hanya beberapa di antara
mereka yang mengiyakan. Namun usulan Beni tetap diterima dengan antusias,
mereka pun sepakat untuk berangkat hari minggu depan.
Hari minggu yang diunggu-tunggu, Risa sudah siap di depan rumahnya. Mereka sudah
sepakat untuk menjadikan rumah Risa sebagai titik kumpul. Tidak butuh lama
untuk menunggu sahabat-sahabatnya itu, Nabila, Deni, Dika, Riski dan Beni
datang beriringan.
“Anggun mana ?” Tanya Risa kepada Riski yang barang kali tahu di mana
Anggun.
Belum juga Riski menjawab,
kedatangan Anggun mengalihkan perhatian mereka. Anggun sepertinya datang dengan
seorang laki-laki. Risa dan yang lain saling bertatap-tatapan, seolah-olah
mereka ingin mengatakan bahwa ini di luar rencana. Siapa yang mengajak
laki-laki itu untuk ikut serta ? Mungkin pertanyaan tersebut mewakili raut
wajah mereka yang penuh tanda tanya.
Sunyi, diam seribu bahasa.
Rencana yang sedikit berubah ini membuat mereka saling tatap begitu lama.
“Hallo Kak Alfian, apa kabar ?” Tanya Nabila memecah kecanggungan.
Laki-laki yang diketahui
bernama Alfian itu tersenyum kepada Nabila yang menyapanya. Dia masih berada di
atas motornya bersama Anggun.
“Kita...jadi pergi kan ?” Tanya Anggun canggung mengetahui suasana tidak
menyenangkan tersebut. Terlebih ketika melihat Riski yang memalingkan wajahnya
saat ditatapnya.
“Ki...kamu tidak apa-apa kan ?” Risa berbisik kepada Riski yang berdiri
tepat di sebelahnya, Risa ingin memastikan saja bahwa tidak ada yang keberatan
atas keiikutsertaan Alfian dalam liburan mereka.
Alfian dan Anggun belum
lama ini diketahui menjalin hubungan spesial. Buat risa dan yang lainnya hal
itu sedikit mengganggu persahabatan, hanya saja mereka sadar bahwa
masing-masing mereka memiliki hak untuk memilih akan hidup seperti apa. Toh
mereka bukanlah hakim yang harus memutuskan seseorang bersalah atau tidak.
Mereka bukanlah tipe teman yang mengekang hak-hak pribadi.
Meski perjalanan Risa dan
para sahabatnya penuh dengan kecanggungan, akhirnya mereka sampai juga ke
sebuah pantai yang sangat indah. Suasana menjadi sedikit mencair ketika mereka
mulai menikmati keindahan pandai yang tidak bisa dilewatkan, bahkan mereka
menciptakan berbagai candaan yang membuat rasa bahagia menyelimuti kebersamaan
mereka.
“Yuk kita foto Ore Squad !” Ajak Deni sembari menyiapkan kamera.
“Ore Squad ?” Tanya yang lain bersamaan.
“Iya, Ore...kita kan Ore yang artinya rusuh. Selama ini kita tidak bisa
tidak rusuh kalau ngumpul begini,” kata Deni menjelaskan ide spontannya itu.
Sejak saat itulah
persahabatan Risa dengan teman-temannya itu dijuluki Ore Squad. Sejak saat itu
pula persahabatan mereka semakin erat. Tidak perlu lagi ada ikrar yang
diucapkan, mereka sudah sama-sama tahu seperti apa cita-cita dari persahabatan
yang sebenarnya. Tidak hanya itu, mereka juga berusaha menghilangkan ego
masing-masing, bahkan mereka pun melupakan keberadaan Alfian kala itu.
Perjalanan Risa dengan Ore
Squad tidaklah mulus begitu saja, hampir satu tahun mereka melewatinya dengan
berbagai hantaman ketidaksetiaan. Bagi Risa hal kecil masih bisa diatasi. Risa
sendiri adalah teman yang bisa diandalakan dalam berbagai kondisi. Menjadi
penengah di dalam konflik pun dilakoni Risa asalkan Ore Squad tetap ada dan
bertahan, karena Ore Squad sudah menjadi tempat kedua Risa menumpahkan segala
isi hatinya dan menghilangkan rasa bosan, bahkan di saat-saat Risa penuh
masalah.
Sayang seribu sayang,
pohon semakin tinggi semakin keras angin yang menerpa. Apa yang menjadi
kekhawatiran Risa terjadi juga. Ore Squad yang dibangun atas dasar kenyamanan,
senasib dan sepenanggungan mulai terkikis.
Bukan, bukan keinginan
mereka untuk berubah, tapi keadaan yang memaksa mereka untuk saling mengerti.
Remaja seperti Risa dan sahabat-sahabatnya adalah ladang kebahagiaan, bagaimana
tidak, banyak temannya yang lain merasa iri terhadap persahabatan mereka yang
begitu lekat. Kali ini mereka harus menghadapai sesuatu yang mungkin berat.
Mereka sedanga belajar tentang pengorbanan.
Risa merasa asing di kelas
yang sehari-harinya membuat Risa bahagia dengan keberadaan Ore Squad. Namun,
pagi ini terasa berbeda, meja dan kursi yang berjejer rapi murung seakan-akan merasakan perasaan Risa.
Nabila yang duduk di kursinya hanya diam dan membolak-balik lembaran buku di
mejanya. Deni, Beni, dan Dika bercengkrama seadanya, sedangkan Riski melempar
jauh pandangannya ke luar jendela. Asing, benar-benar ketitik nol ketika mereka
belum saling mengenal satu-sama lain. Willy yang sejatinya penghibur di kelas
menjadi kikuk, tiba-tiba tak bergaorah untuk bercanda, apa lagi Anggun yang
menjadi pasangan duonya dalam melucu bertingkah normal, tidak seperti biasanya
yang setengah gila.
Jika saja Alfian tidak ada
di antara mereka, mungkin akan berbeda ceritanya. Alfian seperti kamera
pengawas di setipa kegiatan yang mereka lakukan. Seperti bodyguard Anggun ke manapun Ore Squad pergi. Seperti garis polisi
yang menyekat kedekatan Anggun dengan anggota Ore Squad yang lain. Sudah pasti
tidak nyaman bagi mereka, terutama Riski yang harus menjaga jarak
bermeter-meter dari Anggun. Riski sudah seperti ancaman bagi hubungan Alfian
dan Anggun, sebuah dilema bagi Ore Squad.
“Tidak bisakah kita seperti sedia kala ?” Suara Nabila terdengar bergetar.
“Bisa, tapi harus ada yang berkorban.” Kata Risa menimpali.
“Boleh nangis ?” Tanya Nabila yang mulai menunjukkan kecengengannya.
“Jangan, bukan saatnya untuk menangis, ini belum berakhir,” Risa pura-pura
kuat walau ia sendiri ingin menangis.
Pagi berganti malam, malam
berganti pagi. Risa yang meruapakan bagian dari Ore Squad hanya berharap tidak
menangis jikalau nanti mereka harus berpisah. Cukup baginya untuk bersitegang
dengan Anggun atau meladeni cemburu yang membabi buta dari Alfian. Perasaan
Risa ini mewakili perasaan sahabatnya yang lain.
Riski menjadi satu-satunya
orang yang serba salah. Setiap gerak-geriknya seperti bumerang, inginnya
bercanda, dianggapnya mencari perhatian. Inginnya menjauh, dianggapnya sudah
tidak peduli. Inginnya diam saja, dianggapnya berubah. Apa noleh buat, inilah
yang terjadi padanya.
“Bukankah kita bertemu dalam keadaan baik-baik saja ? Kenapa tidak kita
berpisah dengan cara yang baik pula.” Setengah hati Risa mengeluarkan keluhnya,
mungkin ini jalan terakhir yang dipikirkannya.
“Prak !” Tangan Riskin menghantam meja. “Jangan terlalu banyak
pertimbangan, apa yang dikatakan Risa benar, sebaiknya kita akhiri Ore Squad.
Aku juga sudah lelah.”
Risa, Nabila, Deni, Dika,
dan Beni tidak menduga Riski akan meluapkan isi hatinya dengan begitu
emosional.
“Ingat kalian apa yang dikatakan Anggun ? Kita akan hidup dengan apa yang
kita inginkan, kita hidup dengan kehendak diri kita masing-masing, lalu kenapa
hidup kita seperti diatur-atur ?” Riski semakin menjadi-jadi membuat
teman-temannya tertegun.
Sore itu menjadi akhir
cerita Risa bersama Ore Squad. Taman Tugu yang tidak jauh dari sekolah mereka
adalah saksi terpecahnya sebuah persahabatan. Risa, Riski, Dika, Beni, Nabila,
Deni, dan Anggun duduk melingkar tanpa sepatah katapun. Mereka hanya menunggu
siapa di antara mereka yang punya nyali untuk mengatakan salam perpisahan.
Cukup lama mereka hanya menatap satu sama lain, tidak ada di antara mereka yang
ingin mengucapkan selamat tinggal. Berat sepertinya.
“Maaf, jika kita begini terus tidak ada penyelesaian. Aku harap ini bukan
akhir, Ore Squad hanyalah sebuah nama, persahabatan adalah tentang rasa.”
Dengan penuh keberanian Risa membuka keheningan itu dengan kata-kata penuh
makna.
“Aku minta maaf, benar-benar minta maaf kepada kalian. Kalian sudah seperti
keluarga bagiku,” suara itu berasal dari Anggun yang duduk merunduk,
menenggelamkan wajahnya dalam-dalam seperti menyembunyikan kesedihan yang luar
biasa.
“Ore Squad sampai di sini, demi kebaikan kita. Hiduplah seperti apa yang
kalian inginkan.” Riski bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
“Semoga di kehidupan berikutnya kita bisa menjalin persahabatan lagi.”
Sambil beranjak menjauh, Dika menatap sahabat-sahabatnya.
Nabila tidak bisa menahan
air matanya, dia tidak butuh izin siapapun untuk menangis. Risa membalikkan
badannya dan berlalu, matanya sudah dipenuhi air mata. Deni dan Beni menyusul
kemudian, merekapun tak luput dari rasa kehilangan. Sedang Anggun masih berdiri
di tempatnya, melihat satu per satu sahabatnya enghilang dari pandangan. Dengan
rasa bersalah Anggun pun meninggalkan tempat itu.
Risa memenuhi diary-nya dengan kisahnya bersama Ore
Squad. Hanya satu harapannya kini, suatu saat mereka akan tahu bahwa
pengorbanan yang sudah mereka lakukan tidak sia-sia, ada harga untuk semuanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar