Rumah Ibu Kami
Zaman modern menuntut manusia berfikir
praktis dan ekonomis, terutama manusia yang berlabel Ibu. Mereka harus memikir
segala sesuatu secara profesional, bahkan menyangkut apa yang dimakan hari ini
oleh keluarganya.
Seorang Ibu mampu memikirkan segala
sesuatunya dalam waktu yang bersamaan. Apa lagi harus mengurus lebih dari satu
anak. Dia (Ibu) harus melayani suami dan anak-anaknya, sekaligus memikirkan
makanan suami dan anak-anaknya, memikirkan pakaian kotor yang menumpuk,
memikirkan piring dan gelas yang belum dicuci, memikirkan sampah di dalam dan
luar rumahnya, belum lagi dengan tanaman kesayangannya yang berserakan oleh
ayam peliharaan suaminya. Satu waktu ia pun harus memperbaiki sendiri prabot
rumah yang rusak atau mengasah pisau dapur yang mulai berkarat. Bahkan jika
harus mengganti lampu rumah yang mati, dia akan melakukannya meski jaraknya
terlalu tinggi untuknya.
Aku pernah mendengar bahwa seorang
perempuan dilahirkan tanpa kecerdasan, sehingga ia harus belajar jika ingin mengetahui
sesuatu atau dapat melakukan sesuatu, berbeda dengan laki-laki yang sejak lahir
sudah diberikan kecerdasan. Bukan tidak mungkin bahwa Tuhan sudah memikirkan
segalanya, bahkan keahlian seorang wanita yang sudah beranak. Pemikiran seorang
Ibu bisa mengalahkan seorang sarjana ekonomi sehingga seorang Ibu bisa lebih
hemat dari profesor. Seorang Ibu bisa mengalahkan Reper profesional kalau sudah
mulai mengajarkan sesuatu ke anak-anaknya. Marahnya seorang Ibu bisa lebih
mengerikan dari hantu sekalipun. Bisa menjadi wanita paling romantis pada
suaminya. Menjadi motivator handal untuk menyemangati anak-anaknya jika mulai
letih dengan persoalan belajar. Bahkan seorang Ibu bisa memprediksi kapan air
yang dimasaknya akan mendidih sehingga dia bisa mengerjakan pekerjaan yang
lainnya.
Ibu dengan dua anak saja sudah
merepotkan, bagaimana dengan Ibu yang memiliki sembilan anak ? Pasti lebih
merepotkan lagi. Sementara suaminya pergi bekerja dan tujuh anaknya sekolah,
sedang dua lagi masih dalam pengawasan penuh di rumah, Ibu akan membuat makanan
dengan porsi yang benar sehingga semua dapat sama rata, hal ini dilakukan untuk
penghematan biaya. Setelah itu, Ibu akan mengajak dua anaknya untuk bermain di
kamar mandi karena harus mencuci seragam suami dan anak-anaknya. Jika salah
satunya mulai menangis, Ibu akan menyuruhnya menonton tv di rumah tetangganya,
karena stasiun tv di rumah tetangga lebih banyak pilihan dari pada di rumahnya
sendiri yang hanya bisa menikmati siaran
hitam-putih TVRI. Selesai mencuci, Ibu akan memeriksa pakaian yang harus
disetrika, untungnya Ibu memiliki tiga anak perempuan yang sudah bisa
menyetrika sendiri pakaian mereka, jadi Ibu tidak harus mengeluarkan banyak
tenaga untuk pekerjaan yang satu ini. Bila waktunya pulang sekolah, Ibu sudah
menyiapkan makanan di tempat biasa, terpisah dengan makanan untuk suaminya.
Karena Ibu sudah memberikan pelajaran mengenai saling berbagi, anak-anak Ibu
mengerti seberapa banyak yang harus diambilnya. Anak yang terlambat pulang akan
bertanya “Siapa yang belum makan ?”, jadi dia mengambil sesuai kondisi.
Sore hari akan menjadi waktu yang
menyibukkan bagi keluarganya. Saat dimana keluarga lain menghabiskan waktu sore
untuk bersantai atau sekedar berjalan-jalan ke luar rumah. Ibu akan menyelesaikan
jahitan pesanan orang untuk menambah uang hariannya. Jika ada waktu lebih, Ibu
akan menjahit pakaian suami atau anak-anaknya yang sobek. Suami Ibu akan sibuk
dengan ayam peliharaannya yang kadang-kadang menghasilkan uang, anak ayam yang
baru berusia sebulan lebih laris dari induknya sendiri. Ibu memiliki empat anak
lelaki, salah satu anak laki-laki Ibu bernama Bahar menjadi ketua remaja di
lingkungannya. Anak Ibu yang satu ini terkenal dengan ketampanannya, tak jarang
orang-orang menyamai ketampanannya dengan pemain sinetron, maka banyak pula teman
yang suka padanya. Anak tertua Ibu bernama Sabol yang hobi main musik, dia bisa
seharian di kamar dengan gitarnya. Sebenarnya namanya bukan Sabol, tapi Has.
Bapak dan Ibu memanggilnya Sabol karena sewaktu kecil badannya gemuk padat,
sehingga Bapak dan Ibu lebih senang memanggilnya Sabol yang artinya Penuh dalam
bahasa Sasak. Dua anak laki-laki Ibu, Ismail dan Anwar senang berguarau dengan
adik-adik perempuannya jika tak ada teman yang mengajaknya ke luar rumah untuk
bermain. Anak perempuan Ibu yang paling bisa diandalkan bernama Asti, anak
perempuan Ibu yang paling dulu lahir dari anak perempuan Ibu yang lain. Tapi
bukan itu yang membuatnya menjadi anak teladan di rumahnya, karena Asti memang
rajin membantu Ibu di dapur maupun mengurus adik-adiknya. Asti menjadi panutan
bagi adik-adiknya. Dialah replika dari Ibu, hanya saja dia sedikit pemarah.
Riza anak Ibu yang suka mencontoh kakaknya Asti, satu-satunya kebiasaan yang
diciptakannya sendiri adalah makan beras. Dia paling suka dekat-dekat Ibu
ketika Ibu sedang mengayak beras. Beras yang sering kami sebut ‘modeng’ (beras
yang terbelah-belah menjadi kecil-kecil) adalah sasarannya, padahal Ibu
menyisihkannya untuk makanan ayam Bapak. Terkadang Ibu sengaja memberinya
segenggam beras sebagai cemilannya bila tak ada uang jajan untuknya, toh Riza
lebih suka beras dari pada jajanan di warung. Anak Ibu yang gemar dipasangkan
sebagai anak kembar bernama Dian dan Ariani. Berparas cantik membuat dua anak
perempuan Ibu ini menjadi bahan godaan anak-anak remaja di lingkungannya, tidak
sedikit yang diam-diam menaruh hati pada mereka.
Satu lagi anak Ibu yang tidak kalah
uniknya. Namanya Niha, paling tomboy di antara anak perempuan Ibu. Kesukaannya
bermain, bermain apa saja, dari main karet gelang sampai main kelereng. Bermain
dengan perempuan atau laki-laki tidak masalah baginya, yang penting dia senang
memainkannya. Karena ketomboiannya, hanya ketika mengenakan seragam sekolah saja
dia memakai rok layaknya anak perempuan yang lainnya, sisanya hanya ada celana
dan baju kaos. Meski Niha jarang terlihat sedih, tapi dia akan merasa terluka
ketika orang-orang menganggapnya berbeda dari saudara-saudaranya yang lain.
Pernah suatu ketika Niha berjalan dengan Dian kakaknya. Beberapa tetangga
sedang santai duduk di depan rumah mereka dan menyapa mereka, salah satu di
antara mereka berkomentar “Kalau tidak celananya yang sama, mana ada orang yang
mengira mereka itu bersaudara,” lalu mereka tertawa seperti sedang menyaksikan
acara lawak. Dian hanya tersenyum, sedang Niha tersenyum pahit, wajahnya mulai
memerah dan mempercepat jalannya untuk menghindari olokan yang mungkin saja ada
lagi. Jika itu terjadi Niha bisa saja meluapkan amarahnya, karena sebenarnya
dia itu pemarah, namun lebih banyak dipendamnya.
Di malam hari, keluarga Ibu akan utuh
berkumpul. Mereka akan saling membantu menyiapkan makan malam. Anak-anak
perempuan Ibu akan membantu di dapur. Dapur kecil itu pun terasa sesak denga
enam perempuan di dalamnya. Sedang anak-anak lelaki Ibu akan membantu yang
mereka bisa. Mengangkat piring dan gelas ke ruang tengah yang ukurannya tidak
terlalu luas untuk mereka tempati. Menggelar tikar alas duduk mereka, dan
tentunya mereka akan membantu menyicipi makanan yang baru saja matang.
Anak-anak laki-laki Ibu paling pandai dalam masalah rasa. Mereka tahu yang mana
buatan Ibu dan mana buatan sauadara perempuan mereka. Katanya, meski bahan dan
cara membuatnya sama, tapi tetap saja rasanya akan berbeda jika yang membuatnya
orang yang berbeda. Masakan Ibu tidak akan tergantikan rasa dan aromanya.
Seakan Ibu memiliki ramuan ajaib di setiap masakannya.
Makan malam adalah tempat keluarga Ibu
saling mengenal satu sama lain. Belajar dan mengajari satu sama lain. Bukan
sekedar makan seperti diwaktu pagi atau siang hari yang tidak satupun di antara
mereka yang akan saling bertatap muka atau berbincang-bincang, walau hanya 1
menit. Lagi-lagi Bapak-lah rajanya. Memulai segala sesuatu dari Bapak. Piring
untuk Bapak tak boleh ada cacatnya dengan corak yang paling bagus. Ini
pelajaran menghargai. Gelas untuk Bapak yang paling besar atau paling mewah di
antara gelas yang lain, ini juga pelajaran menghargai. Untuk cuci tangan, tidak
boleh ada yang menyentuhnya sebelum Bapak menyentuhnya. Ini pelajaran
menghormati. Satu orang bertugas menuang nasi ke piring. Nasi pertama untuk
Bapak. Kemudian untuk anak laki-laki, selanjutnya Ibu dan anak-anak perempuan.
Yang ini pelajaran saling mengasihi, tidak egois satu sama lain.
Saat menyuguhkan minuman ke seseorang,
tangan tidak boleh menutup atas gelasnya. Artinya tangan memengang gelas dengan
mengenggam pinggirannya. Beda lagi dengan gelas yang memiliki pegangan di
pinggirannya. Saat disajikan, pegangannya harus berada di sebelah kanan orang
yang disajikan minuman tersebut. Ketika makan menggunakan sendok, usahakan
tidak ada suara yang dihasilkan antara sendok dan piring ketika beradu.
Pelajaran sopan santun yang sudah anak-anak Ibu hafal di luar kepala.
Setelah melakukan ini itu, keluarga
Ibu akan seperti keluarga yang lainnya, ngobrol, bercanda, saling bercerita
pengalaman menarik di sekolah atau saat bermain. Dian, anak Ibu yang ketujuh
selalu bercerita tentang temannya. Kemarin temannya yang ini. Besoknya temannya
yang itu dan sekarang temannya yang lain lagi.
“Dian,
apa tidak ada cerita selain cerita teman ? Dian sendiri bagaimana ?” Tanya
Bahar kakak tertampannya.
“Jangan
ditanya kalau dia. Di luar pendiamnya masyaAllah, di rumah malah cerita
sepanjang jalan kenangan”, Riza menimpali.
Dian
ikut tertawa bersama yang lain untuk menghilangkan rasa malunya. Akan ada
banyak cerita setelahnya. Mereka akan semakin gaduh ketika makan malam mulai
menunjukkan tanda-tanda berakhir. Asti, anak teladan Ibu akan mengerjakan
tugasnya menggantikan Ibu untuk bersih-bersih dan mencuci semua piring dan
gelas dibantu oleh adik-adik perempuannya yang lain sekedar mengangkat piring
dan gelas ke tempatnya. Asti sangat pembersih, termasuk dalam makanan, dia
tidak bisa melihat sisa makanan, terutama yang berbumbu, katanya sayang. Sudah
susah-susah dibuat, didapatnya pun susah, jadi jangan sampai disia-siakan.
Lap tangan bercorak merah akan
mereka pakai bergantian setelah mencuci tangan dengan air. Sudah pasti Bapak
yang mengawali, barulah kemudian siapa saja yang mau berebut. Paska makan malam
semakin asyik buat ngobrol atau becanda. Ibu akan jadi penonton ketika
anak-anaknya mulai bertingkah. Ariani anak yang paling aktif membuat lelucon,
umurnya yang masih tiga tahun membuat segala tingkahnya menjadi lucu didukung
dengan wajah imut dan menggemaskan dimilikinya.
“Ayo...tampilkan
Ani...mau naynyi. Sekuntum mawarl merlah.” Kata Ariani memelas ingin dipanggil
bak penyanyi di televisi ketika masuk panggung.
“Inilah
dia biduan kita, kita tampilnya....ARIANI !!!” Sambut Ismail kakak yang paling
jangkung.
Ariani
dengan antusias naik ke atas meja dan joget-joget tidak jelas. Lirik lagunya
ngalur-ngidul, entah lari ke mana lirik-lirik itu. Kakak-kakaknya sangat sayang
kepadanya, jadi iyakan saja permintaannya jika itu membuatnya senang. Mereka
mulai bertepuk tangan untuk menyemangati Ariani yang sedang berkhayal jadi
biduan. Aku tidak habis fikir kenapa Sekuntum Mawar Merah yang jadi lagu
pilihannya. Mungkin ini lagu pertama dan berulang-ulang didengarnya di televisi.
Evita Mala memang sedang naik daun waktu itu.
Rumah yang mereka tempati hanya
memiliki empat kamar. Lima anak perempuan Ibu tidur dalam satu kamar. Kadang
Niha dan Ariani harus tidur di ruang tengah ditemani Ibu karena suhu udara
sangat panas, mereka tidak tahan berdesakan, terlabih merekalah yang harus
mengalah dari kakak-kakak mereka. Empat anak laki-laki Ibu akan berbagi kamar.
Dua di kamar depan dan dua lagi di kamar samping.
Biasanya anak-anak perempuan Ibu
akan membuat keributan setiap menjelang tidur. Ada yang berebut selimut atau
bantal. Ariani paling sering menjadi biang kerok disetiap keributan. Untuk hal
yang satu ini, tidak ada yang mau mengalah, apa lagi harus menyerahkan selimut
mereka. Sebenarnya ini bukanlah sebuah perkelahian, ini semacam nyanyian
sebelum tidur untuk mereka. Ibu sendiri hanya menegur mereka karena suara yang
mereka timbulkan terlalu keras. Keributan sekecil apapun akan terdengar oleh
tetangga, maklum rumah mereka di perumahan padat penduduk dengan gang tikus sebagai
jalan ke luar masuk lingkungan rumah. Tidak ada halaman, yang ada buka pintu
bertemu pintu tetangga. Kalau sudah puas dengan pertikaian tak berarti itu,
mereka akan tidur dengan nyenyak tanpa terbangun di tengah malam.
Subuh adalah mesin waktu yang tidak
bisa memberi toleransi kepada siapapun. Terlambat satu detik, sama seperti kamu
lupa menyisir rambut sebelum diikat. Kamar mandi umum adalah hal yang paling
berharga ketika ayam berkokok. Lebih dari tiga kepala keluarga memanfaat sumur
di belakang rumah untuk keperluan sehari-sehari. Termasuk kamar mandi umum yang
ukurannya cukup besar, sayang hanya ada satu bilik saja. Jadi, anak-anak Ibu
harus bergegas untuk mendapatkan urutan pertama dalam mengantri. Mereka tidak
boleh terlambat ke sekolah, bisa jadi akan menjadi sejarah dalam keluarga ibu
jika ada di antara anaknya yang terlambat sekolah. Paling tidak jika tidak
mendapat urutan pertama, ya kedua atau ketiga. Jangan sampai yang keempat atau
lebih dari itu. Seandainya terpaksa, maka bermimpilah untuk bisa menyantap
sarapan. Lebih baik tidak sarapan dari pada terlambat ke sekolah. Untuk
mewanti-wanti, Ibu selalu membangunkan anak-anaknya tepat ketika ayam berkokok.
Setelah membangunkan mereka, Ibu akan ke samping rumah, menyalakan tungku dan
memasak air. Ibu benar-benar berhemat untuk menggunakan kompornya karena harga
minyak tanah sedang melambung tinggi. Masak air dengan ukuran teko dua kali
lipat dari ukuran kepala Ariani membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga Ibu
lebih memilih memasaknya di tungku saja. Selain itu, menggunakan tungku bisa mempercepat
air untuk mendidih. Menghemat waktu, kata Ibu.
Air yang dimasak Ibu untuk dicampur
air dingin di bak mandi khusus untuk suaminya. Katanya, Bapak tidak bisa mandi
dengan air yang terlalu dingin. Sisa air yang di teko akan Ibu simpan di
termos. Wajib hukumnya ketersediaan air panas di rumah Ibu. Suaminya doyan
minum kopi dan setiap hari ada saja tamu yang datang mencari Bapak.
Sementara anak-anak Ibu mengenakan
seragam sekolah. Ibu mengoyak-ngoyak nasi di wajan. Harum masakannya akan
tercium sampai ke kamar.
“Nasi
goreng.” Kata anak-anaknya dalam hati
seperti sudah hafal menu sarapan mereka.
Anak-anak
Ibu wajib mendapat sarapan. Itulah aturan yang dibuat Ibu. Seberapapun jumlahnya,
semua anak Ibu harus kebagian. Bukan tanpa alasan Ibu membuat peraturan yang
menjadi kebiasaan ini, tapi semata-mata karena tidak setiap hari Ibu bisa
memberi uang saku untuk anak-anaknya. Dengan tetap sarapan tiap paginya,
anak-anak Ibu bisa menahan lapar sampai siang hari.
***
Keluarga Ibu cukup terkenal di
lingkungannya. Pertama karena suaminya seorang guru yang setiap siswanya akan
mengingat perangainya yang tegas dan sedikit menakutkan. Setiap sekolah
tempatnya mengajar tidak akan lupa bagaimana dia memipin dengan membawa sifat
tempramennya. Sebagian orang yang mengenalnya menjulukinya Pak Raden karena
kumis lebat yang menempel di antara bibir dan hidung. Dan suara tinggi khas
dari mulutnya ketika amarahnya meletup-letup. Anak-anaknya pun tak lepas dari
ketakutan ketika Bapak mereka mulai marah. Pecut yang terbuat dari ekor ikan
pari yang sudah dikeringkan menjadi cemeti. Paha mereka akan mendapat cap merah
dari cemeti jika coba-coba membatah atau merengek tidak jelas di depannya. Si
bungsu Ariani pernah sampai bersembunyi di kolong meja untuk menghindari
sabetan cemeti Bapak.
Namun demikian keburukan-keburukan
suaminya yang menonjol itu tertutupi dengan prestasi-prestasi sembilan anak
yang dilahirkannya. Dari anak pertamanya hingga kesembilan memiliki riwayat
kecerdasan, mereka tidak pernah ke luar dari peringkat tiga besar di kelas.
Teman-teman sekolah mereka tidak jarang yang menyatakan langsung kekaguman
mereka. Para tetangga akan membanding-bandingkan anaknya denga anak-anak Ibu,
kemudian bertanya bagaimana anak-anak Ibu belajar, apa yang mereka pelajari,
apa makanan mereka, hingga berapa jam mereka bermain perharinya. Ibu menjawab
hanya dengan senyum. Anak Ibu Dian, Niha dan Ariani selalu mendapat kunjungan
dari teman-temannya yang ingin belajar kelompok atau mengerjakan PR bersama,
terutama PR matematika. Jika ketiga anaknya itu secara bersamaan kedatangan
teman-temannya, maka harus ada salah satu dari mereka yang mengalah, sedang
satunya lagi harus rela belajar di ruang tengah yang ubinnya tidak rata atau
kamar kakak laki-lakinya. Setelahnya tiga anak Ibu akan mengatur jadwal belajar
bersama mereka, siapa yang siang hari dan siapa yang sore hari, agar mereka
tetap bisa belajar di ruang tamu yang lantainya sudah memakai keramik.
Masalah akademik, Ibu menyerahkan
anak-anaknya di tangan dingin suaminya. Maklum, Ibu merasa tidak layak untuk
itu karena hanya lulusan SMP. Suaminya yang dipanggil Bapak oleh anak-anaknya
tidak pernah setengah-setengah dalam mengajar. Jika mereka salah, maka
siap-siap mendapat hentakan kemarahan Bapak yang terkadang membuat jantung
hampir meledak karena terkejut.
Sore itu Niha minta diajarkan Bapak
menyelesaikan PR matematikanya. Ada lima soal yang harus dijawabnya. Empat soal
sudah diselesaikan sebelumnya. Soal terakhir cukup sulit baginya, sehingga
butuh bantuan Bapaknya. Bapak duduk di sampingnya,
“Coba
kerjakan dengan langkah ini,” kata Bapak mengintruksikan. Niha menegerjakan
dengan hati-hati, namun tanpa disadari dia salah menghitung perkalian yang
dikerjakannya,
“Prak
!!!” suara meja dipukul Bapak. Niha terperanjat.
“Borlok
! Masak 4 x 8 bisa salah ?” Suara tinggi Bapak menyusup ke telinganya, hingga tak
bisa ke luar lagi dari telinga yang lainnya. Suara Bapak seakan tertahan di
tengah-tengah otaknya.
Sejak saat itu, Niha atau saudaranya
yang lain enggan meminta Bapak sebagai mentor mereka. Bisa-bisa mereka terkena
serangan jantung atau kuping mereka menjadi tolek karena suara tinggi menyusup
ke gendang telinga dan tak mau ke luar. Mereka lebih memilih mengerjakan
sendiri atau bertanya pada teman, meski 50% jawabannya akan salah.
Anak lelaki Ibu yang bernama Bahar
pernah dilempar ke luar rumah oleh Bapak karena menangis seharian. Tidak tahan
dengan rengekannya, Bapak mengangkat tubuh kurusnya dan melemparnya dari pintu
belakang rumah hingga Bahar mendarat dekat sumur. Bahar mengaduh, tangisnya
semakin menjadi. Tetangga hanya menatap iba pada Bahar, tapi mereka seperti
terbiasa melihat adegan-adegan seperti ini. Ibu dengan cepat mengangkat tubuh
Bahar dan menyuruhnya jauh-jauh dari suaminya. Karena semakin suaminya
mendengar rengekan itu, akan ada hukuman susulan yang akan didapatnya.
Semakin hari, setiap pergantian
bulan, tahun...anak-anak Ibu semakin besar dan dewasa. Has anak tertua Ibu kini
mencuci pakaiannya sendiri, terasa malu bila masih berpangku tangan pada Ibu
sedang ia sendiri akan segera kuliah. Dia mencoba untuk mandiri sebelum ia
benar-benar harus mandiri ketika kuliah nanti. Tahun berikutnya anak pertama
Ibu pergi merantau ke kota orang untuk meneruskan sekolah. Tidak banyak pemuda
di lingkungan rumah Ibu yang bisa melanjutkan kuliah, apa lagi sampai ke luar
kota. Sebuah kebanggan bagi Ibu, terutama suaminya. Bapak adalah orang yang
sangat akademis, apa-apa harus dengan pendidikan. Pendidikan adalah nomor satu,
meski harus berdarah-darah Bapak memperjuangkannya. Menurutnya, sia-sia saja
kecerdasan yang kami miliki jika tak diseimbangkan dengan pendidikan yang
layak. Maka disetiap kesempatan, Bapak tak pernah melewatkan untuk datang ke
sekolah anak-anaknya ketika pembagian rapor. Bahkan dalam keadaan apapun. Bapak
tetap akan datang walau masih mengenakan kaos dan sarung.
Tahun-tahun berikutnya. Satu demi
satu anak Ibu mulai meninggalkan rumah demi pendidikan mereka. Bukan,
sebenarnya ini cita-cita suaminya yang ingin melihat anaknya sama seperti
dirinya, jadi pegawai negeri dan hidup dengan layak.
Rumah Ibu tak seramai tahun-tahun
lalu. Empat anak Ibu, Sabol, Ismail, Asti dan Anwar harus menimba ilmu di kota
Mataram. Jaraknya jauh dari rumah. Empat anak Ibu naik kendaraan Engkel,
satu-satunya transportasi menuju Mataram. Lama perjalanan 1 jam 30 menit sampai
2 jam lamanya. Mereka juga harus ngekos, tidak mungkin bolak-balik setiap hari
dengan Engkel yang tidak beroperasi setiap saat. Ongkos juga jadi pertimbangan
utama. Tiga anak lelaki Ibu tinggal di satu kos, sedang Asti di kos yang
berbeda. Mereka akan pulang jika libur saja atau pada lebaran.
Bahar anak lelaki satu-satunya di
rumah jarang tidur di rumah. Bahar sekarang duduk di bangku SMP. Dia lebih suka
menginap di rumah sepupunya. Pulang di saat dia mau pulang. Niha dan Ariani
baru masuk sekolah. Mereka jadi tanggungjawab Riza sebagai kakak perempuan
tertua di rumah saat ini. Mengajipun Riza yang harus membimbing adik-adiknya.
Riza juga yang membantu Ibu untuk mencuci pakaian adiknya Niha dan Ariani,
sedang Dian sudah mulai mencuci sendiri.
Sejak peralihan pemerintahan dari
Orde Lama ke Orde Baru, ekonomi
masyarakat menjadi sulit. Berdampak pula pada pola konsumsi barang dan makanan
yang berkurang. Suami Ibu tidak lagi mendapat beras dari pemerintah. Biasanya
para guru akan mendapat satu karung penuh beras dengan cuma-cuma dari pemerintah,
salah satu program unggulan pemerintah sebagai bentuk menyesejahterakan
kehidupan guru. Sekarang tidak lagi, biaya hidup pun meningkat drastis. Inilah
masa-masa Indonesia menghadapi krisis ekonomi. Ibu menjadi sosok yang kreatif.
Dengan keahliannya, Ibu mulai berjualan kecil-kecilan, dari berjualan rujak,
bubur, serabi, dan buah hasil kebun. Ibu
jarang terlihat menggoncang mesin jahitnya karena para pelanggannya mulai
berkurang.
Kebutuhan sekolah anak-anak Ibu
meningkat drastis. Bukan buku tulis saja yang mereka fikirkan, sebagian besar
mata pelajaran membutuhkan buku bacaan yang mendukung. Apa lagi tiga anak Ibu
sekolah di sekolah unggulan. Menuntut mereka harus memenuhi kriteria sebagai
siswa unggulan. Sekolah akan menuntut mereka membeli beberapa buku paket. Tidak
jarang anak Ibu Riza sampai menangis seharian karena belum juga bisa membayar
buku paket yang dibagikan gurunya.
Gaji suami Ibu hanya cukup membiayai
empat anaknya yang sekolah di Mataram. Dia harus memikirkan lima anak yang
lainnya yang mulai banyak rengekan. Sering sekali mereka menangis di pagi hari
ketika akan berangkat sekolah. Mereka takut untuk ke sekolah karena belum bayar
ini itu. Sebagai seorang yang mencintai anak-anaknya, Ibu semakin rajin mencari
uang dengan segala cara, termasuk menjual barang-barang berharga yang dia
miliki, bahkan Ibu akan berhutang ke tetangga.
Pada libur semester, Asti pulang
bersama Anwar. Mereka terlihat tidak bahagia. Asti bercerita tentang dompetnya
yang hilang ketika ditinggalnya ke kamar mandi sewaktu di kampus. Dompet itu
adalah hidupnya. KTP, Kartu Mahasiswa, Kartu Perpustakaan dan sejumlah uang,
sisa beasiswa yang didapatnya ada di dompet itu.
Anwar hanya terdiam sejak
kedatangannya. Dia memang pendiam, tapi tak seperti biasanya. Anwar menghampiri
Ibu di dapur dan menyodorkan sebuah kertas yang dilipatnya. Anwar tak bicara
sepatah kata pun, dia kembali ke kamarnya meninggalkan Ibu yang heran dengan
kelakuannya. Sebelum membuka apa isi kertas tersebut, Ibu merasa ada masalah di
dalamnya.
“Apa
lagi ini ?” Kata Ibu membuka kertas dan mulai membaca tulisan yang tertata
rapi. Dia tahu itu adalah tulisan tangan Anwar. Ibu mulai membaca kata demi
kata.
Ibu
menghela nafas panjang. Ibu terduduk di kursi kayu dekat pintu dapur. Dia
melihat anak-anak perempuannya duduk melingkar di depan tv, mereka sedang
serius mendengar Asti bercerita. Mata Ibu kemudian mengarah ke pintu kamar
Anwar yang tertutup rapat. Ibu melipat kembali surat yang dipegangnya.
“Kalian
lapar ? Nasinya sudah matang.” Ibu memberi isyarat kepada anak-anaknya untuk
mengikutinya ke dapur. Anak-anak Ibu berhamburan saling mendahului masuk ke dapur.
“Sisakan
untuk Bapak dan Anwar.” Kata Ibu kepada anak-anak perempuannya yang antusias
menyendok nasi hangat di wadah besar berwarna milenium.
“Aku
panggil Kak Anwar ya, biar kita makan bersama.” Niha melepas piringnya dan
pergi ke kamar Anwar.
“Bu,
Bahar mana ?” Tanya Asti.
“Di
rumah Paman Husin. Kak Bahar sekarang jarang pulang, kalau ada perlu saja baru
pulang,” kata Riza menyambut pertanyaan Asti.
“Benar
begitu Bu ?” Tanya Asti lagi.
“Iya.”
Jawab Ibu pendek.
“Dasar
anak itu, memang pantas dia dijuluki karet, kerjaannya mental sini mental
sana,” omelan khas Asti ke luar juga di hari pertamanya di rumah.
“Sudah-sudah,
kalian makannya di luar sana.” Ibu
mengusir anak-anaknya dari dapur.
Anwar ke luar dari kamarnya
bergabung dengan saudaranya yang lain. Makan siang hari itu menjadi ramai.
Mereka bertingkah seperti tak ada beban. Ibu sedikit terhibur dengan kebahagiaan
anak-anaknya.
“Jangan
terlalu ribut. Bapak sedang tidur, tahu sendiri kalau Bapak kalian marahnya
seperti apa.” Kepala Ibu menyembul dari pintu dapur untuk memperingati
anak-anaknya.
Suara mereka sedikit demi sedikit
bisa dikendalikan. Selesai makan mereka melanjutkan suara berisik mereka di
kamar dengan pintu yang tertutup rapat agar suara yang mereka hasilkan tak
sampai ke kamar Bapak.
Ibu duduk termenung di belakang
rumah. Ia duduk di kursi kayu buatan Bapak. Matanya seperti memandang sumur di
depannya, namun fikiran dan perasaannya mengambang. Beberapa kali Ibu menghela
nafas panjang. Siang hari adalah suasana paling menyeramkan di lingkungan
rumahnya. Para perempuan yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga akan
beristirahat sampai adzan ashar berkumandang, begitu juga dengan anak-anak
perempuan mereka. Laki-laki dewasa hampir seluruhnya bekerja sebagai buruh
bangunan yang aktif dari pagi sampai sore hari di luar rumah. Mereka baru
kembali pada sore hari atau malam harinya, atau bisa seminggu kemudian. Sedang
anak laki-laki biasa bermain di lapangan atau tempat yang jauh dari rumah untuk
menghindari omelan para orang tua. Gang-gang akan menjadi sepi. Hanya suara
angin dan panas matahari yang bersemangat meramaikan siang itu. Ibu
menyempatkan diri menutup jendela kamar anak-anak perempuannya menghindari
terpaan sinar matahari siang yang begitu panas. Mereka bisa terbangun
karenanya.
Ibu dan suaminya terlihat duduk di
kursi panjang ruang tamu. Sambil menyeruput kopi hitamnya, Bapak menmbaca surat
yang disodorkan Ibu. Dahinya mulai mengkerut membentuk pola kemarahan. Alis
Bapak sangat khas bila menunjukkan kemarahannya. Ujung alis Bapak naik tajam
seakan membentuk huruf V bila disatukan.
“Anwar
!” Panggil Bapak dengan keras.
Kelima
anak perempuan Ibu yang masih di kamar langsung mengintip dari pintu.
“Anak-anak,
ada ubi rebus di dapur. Kalian bermain
di lapangan dulu.” Ibu seperti tak ingin anak-anaknya yang lain terlibat dalam
masalah yang ada.
Empat
anak perempuan Ibu mengikuti perintah, sedang Asti beralasan ingin
bersih-bersih dan mencuci pakaian. Mana mungkin dia bermain dengan anak-anak
sekolahan, permainan mereka pasti itu-itu lagi.
Sambil menggoyang mesin jahitnya,
Ibu memperhatikan Bapak yang memberi makan ayam-ayamnya. Sepertinya Bapak masih
kesal, terlihat dari alisnya yang masih membentuk huruf V.
“Bu.
Mana satu lagi ayamku ?” Bapak berteriak. Ibu menghentikan mesinnya.
“Ayam
yang mana ?” Tanya Ibu balik dengan santai. Paling suaminya sedang mencari
kambing hitam atas kekesalan, fikir Ibu.
“Ayam
pejantanku !” Suara Bapak semakin keras.
Mendengar
ayam pejantan suaminya yang hilang, Ibu bergegas ke luar ikut panik dan
membantu suaminya mencari. Ayam pejantan yang hilang adalah ayam kesayangan
Bapak. Sudah banyak yang menawarnya, tapi tetap saja Bapak tidak mau
menjualnya.
“Paling
nanti dia pulang sendiri,” kata Ibu menenagkan Bapak yang tambah gelisah karena
hari mulai gelap.
“Tidak,
ini sudah hampir magrib, seharusnya dia sudah kembali,” Bapak mondar-mandir
mencari.
“Mana
anak-anak ?”
Baru
saja Bapak bertanya, lima anak peempuannya muncul dari gang. Mereka terkejut
melihat Bapak yang berkacak pinggang menyambut mereka.
“Cepat
cari ayam pejantan Bapak ! Jangan coba-coba kembali kalau belum menemukannya !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar