Jumat, 12 Mei 2017

Cerpen

Rumah Ibu Kami

Zaman modern menuntut manusia berfikir praktis dan ekonomis, terutama manusia yang berlabel Ibu. Mereka harus memikir segala sesuatu secara profesional, bahkan menyangkut apa yang dimakan hari ini oleh keluarganya.
Seorang Ibu mampu memikirkan segala sesuatunya dalam waktu yang bersamaan. Apa lagi harus mengurus lebih dari satu anak. Dia (Ibu) harus melayani suami dan anak-anaknya, sekaligus memikirkan makanan suami dan anak-anaknya, memikirkan pakaian kotor yang menumpuk, memikirkan piring dan gelas yang belum dicuci, memikirkan sampah di dalam dan luar rumahnya, belum lagi dengan tanaman kesayangannya yang berserakan oleh ayam peliharaan suaminya. Satu waktu ia pun harus memperbaiki sendiri prabot rumah yang rusak atau mengasah pisau dapur yang mulai berkarat. Bahkan jika harus mengganti lampu rumah yang mati, dia akan melakukannya meski jaraknya terlalu tinggi untuknya.
Aku pernah mendengar bahwa seorang perempuan dilahirkan tanpa kecerdasan, sehingga ia harus belajar jika ingin mengetahui sesuatu atau dapat melakukan sesuatu, berbeda dengan laki-laki yang sejak lahir sudah diberikan kecerdasan. Bukan tidak mungkin bahwa Tuhan sudah memikirkan segalanya, bahkan keahlian seorang wanita yang sudah beranak. Pemikiran seorang Ibu bisa mengalahkan seorang sarjana ekonomi sehingga seorang Ibu bisa lebih hemat dari profesor. Seorang Ibu bisa mengalahkan Reper profesional kalau sudah mulai mengajarkan sesuatu ke anak-anaknya. Marahnya seorang Ibu bisa lebih mengerikan dari hantu sekalipun. Bisa menjadi wanita paling romantis pada suaminya. Menjadi motivator handal untuk menyemangati anak-anaknya jika mulai letih dengan persoalan belajar. Bahkan seorang Ibu bisa memprediksi kapan air yang dimasaknya akan mendidih sehingga dia bisa mengerjakan pekerjaan yang lainnya.
Ibu dengan dua anak saja sudah merepotkan, bagaimana dengan Ibu yang memiliki sembilan anak ? Pasti lebih merepotkan lagi. Sementara suaminya pergi bekerja dan tujuh anaknya sekolah, sedang dua lagi masih dalam pengawasan penuh di rumah, Ibu akan membuat makanan dengan porsi yang benar sehingga semua dapat sama rata, hal ini dilakukan untuk penghematan biaya. Setelah itu, Ibu akan mengajak dua anaknya untuk bermain di kamar mandi karena harus mencuci seragam suami dan anak-anaknya. Jika salah satunya mulai menangis, Ibu akan menyuruhnya menonton tv di rumah tetangganya, karena stasiun tv di rumah tetangga lebih banyak pilihan dari pada di rumahnya sendiri yang hanya  bisa menikmati siaran hitam-putih TVRI. Selesai mencuci, Ibu akan memeriksa pakaian yang harus disetrika, untungnya Ibu memiliki tiga anak perempuan yang sudah bisa menyetrika sendiri pakaian mereka, jadi Ibu tidak harus mengeluarkan banyak tenaga untuk pekerjaan yang satu ini. Bila waktunya pulang sekolah, Ibu sudah menyiapkan makanan di tempat biasa, terpisah dengan makanan untuk suaminya. Karena Ibu sudah memberikan pelajaran mengenai saling berbagi, anak-anak Ibu mengerti seberapa banyak yang harus diambilnya. Anak yang terlambat pulang akan bertanya “Siapa yang belum makan ?”, jadi dia mengambil sesuai kondisi.
Sore hari akan menjadi waktu yang menyibukkan bagi keluarganya. Saat dimana keluarga lain menghabiskan waktu sore untuk bersantai atau sekedar berjalan-jalan ke luar rumah. Ibu akan menyelesaikan jahitan pesanan orang untuk menambah uang hariannya. Jika ada waktu lebih, Ibu akan menjahit pakaian suami atau anak-anaknya yang sobek. Suami Ibu akan sibuk dengan ayam peliharaannya yang kadang-kadang menghasilkan uang, anak ayam yang baru berusia sebulan lebih laris dari induknya sendiri. Ibu memiliki empat anak lelaki, salah satu anak laki-laki Ibu bernama Bahar menjadi ketua remaja di lingkungannya. Anak Ibu yang satu ini terkenal dengan ketampanannya, tak jarang orang-orang menyamai ketampanannya dengan pemain sinetron, maka banyak pula teman yang suka padanya. Anak tertua Ibu bernama Sabol yang hobi main musik, dia bisa seharian di kamar dengan gitarnya. Sebenarnya namanya bukan Sabol, tapi Has. Bapak dan Ibu memanggilnya Sabol karena sewaktu kecil badannya gemuk padat, sehingga Bapak dan Ibu lebih senang memanggilnya Sabol yang artinya Penuh dalam bahasa Sasak. Dua anak laki-laki Ibu, Ismail dan Anwar senang berguarau dengan adik-adik perempuannya jika tak ada teman yang mengajaknya ke luar rumah untuk bermain. Anak perempuan Ibu yang paling bisa diandalkan bernama Asti, anak perempuan Ibu yang paling dulu lahir dari anak perempuan Ibu yang lain. Tapi bukan itu yang membuatnya menjadi anak teladan di rumahnya, karena Asti memang rajin membantu Ibu di dapur maupun mengurus adik-adiknya. Asti menjadi panutan bagi adik-adiknya. Dialah replika dari Ibu, hanya saja dia sedikit pemarah. Riza anak Ibu yang suka mencontoh kakaknya Asti, satu-satunya kebiasaan yang diciptakannya sendiri adalah makan beras. Dia paling suka dekat-dekat Ibu ketika Ibu sedang mengayak beras. Beras yang sering kami sebut ‘modeng’ (beras yang terbelah-belah menjadi kecil-kecil) adalah sasarannya, padahal Ibu menyisihkannya untuk makanan ayam Bapak. Terkadang Ibu sengaja memberinya segenggam beras sebagai cemilannya bila tak ada uang jajan untuknya, toh Riza lebih suka beras dari pada jajanan di warung. Anak Ibu yang gemar dipasangkan sebagai anak kembar bernama Dian dan Ariani. Berparas cantik membuat dua anak perempuan Ibu ini menjadi bahan godaan anak-anak remaja di lingkungannya, tidak sedikit yang diam-diam menaruh hati pada mereka.
Satu lagi anak Ibu yang tidak kalah uniknya. Namanya Niha, paling tomboy di antara anak perempuan Ibu. Kesukaannya bermain, bermain apa saja, dari main karet gelang sampai main kelereng. Bermain dengan perempuan atau laki-laki tidak masalah baginya, yang penting dia senang memainkannya. Karena ketomboiannya, hanya ketika mengenakan seragam sekolah saja dia memakai rok layaknya anak perempuan yang lainnya, sisanya hanya ada celana dan baju kaos. Meski Niha jarang terlihat sedih, tapi dia akan merasa terluka ketika orang-orang menganggapnya berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Pernah suatu ketika Niha berjalan dengan Dian kakaknya. Beberapa tetangga sedang santai duduk di depan rumah mereka dan menyapa mereka, salah satu di antara mereka berkomentar “Kalau tidak celananya yang sama, mana ada orang yang mengira mereka itu bersaudara,” lalu mereka tertawa seperti sedang menyaksikan acara lawak. Dian hanya tersenyum, sedang Niha tersenyum pahit, wajahnya mulai memerah dan mempercepat jalannya untuk menghindari olokan yang mungkin saja ada lagi. Jika itu terjadi Niha bisa saja meluapkan amarahnya, karena sebenarnya dia itu pemarah, namun lebih banyak dipendamnya.
Di malam hari, keluarga Ibu akan utuh berkumpul. Mereka akan saling membantu menyiapkan makan malam. Anak-anak perempuan Ibu akan membantu di dapur. Dapur kecil itu pun terasa sesak denga enam perempuan di dalamnya. Sedang anak-anak lelaki Ibu akan membantu yang mereka bisa. Mengangkat piring dan gelas ke ruang tengah yang ukurannya tidak terlalu luas untuk mereka tempati. Menggelar tikar alas duduk mereka, dan tentunya mereka akan membantu menyicipi makanan yang baru saja matang. Anak-anak laki-laki Ibu paling pandai dalam masalah rasa. Mereka tahu yang mana buatan Ibu dan mana buatan sauadara perempuan mereka. Katanya, meski bahan dan cara membuatnya sama, tapi tetap saja rasanya akan berbeda jika yang membuatnya orang yang berbeda. Masakan Ibu tidak akan tergantikan rasa dan aromanya. Seakan Ibu memiliki ramuan ajaib di setiap masakannya.
Makan malam adalah tempat keluarga Ibu saling mengenal satu sama lain. Belajar dan mengajari satu sama lain. Bukan sekedar makan seperti diwaktu pagi atau siang hari yang tidak satupun di antara mereka yang akan saling bertatap muka atau berbincang-bincang, walau hanya 1 menit. Lagi-lagi Bapak-lah rajanya. Memulai segala sesuatu dari Bapak. Piring untuk Bapak tak boleh ada cacatnya dengan corak yang paling bagus. Ini pelajaran menghargai. Gelas untuk Bapak yang paling besar atau paling mewah di antara gelas yang lain, ini juga pelajaran menghargai. Untuk cuci tangan, tidak boleh ada yang menyentuhnya sebelum Bapak menyentuhnya. Ini pelajaran menghormati. Satu orang bertugas menuang nasi ke piring. Nasi pertama untuk Bapak. Kemudian untuk anak laki-laki, selanjutnya Ibu dan anak-anak perempuan. Yang ini pelajaran saling mengasihi, tidak egois satu sama lain.
Saat menyuguhkan minuman ke seseorang, tangan tidak boleh menutup atas gelasnya. Artinya tangan memengang gelas dengan mengenggam pinggirannya. Beda lagi dengan gelas yang memiliki pegangan di pinggirannya. Saat disajikan, pegangannya harus berada di sebelah kanan orang yang disajikan minuman tersebut. Ketika makan menggunakan sendok, usahakan tidak ada suara yang dihasilkan antara sendok dan piring ketika beradu. Pelajaran sopan santun yang sudah anak-anak Ibu hafal di luar kepala.
Setelah melakukan ini itu, keluarga Ibu akan seperti keluarga yang lainnya, ngobrol, bercanda, saling bercerita pengalaman menarik di sekolah atau saat bermain. Dian, anak Ibu yang ketujuh selalu bercerita tentang temannya. Kemarin temannya yang ini. Besoknya temannya yang itu dan sekarang temannya yang lain lagi.
“Dian, apa tidak ada cerita selain cerita teman ? Dian sendiri bagaimana ?” Tanya Bahar kakak tertampannya.
“Jangan ditanya kalau dia. Di luar pendiamnya masyaAllah, di rumah malah cerita sepanjang jalan kenangan”, Riza menimpali.
Dian ikut tertawa bersama yang lain untuk menghilangkan rasa malunya. Akan ada banyak cerita setelahnya. Mereka akan semakin gaduh ketika makan malam mulai menunjukkan tanda-tanda berakhir. Asti, anak teladan Ibu akan mengerjakan tugasnya menggantikan Ibu untuk bersih-bersih dan mencuci semua piring dan gelas dibantu oleh adik-adik perempuannya yang lain sekedar mengangkat piring dan gelas ke tempatnya. Asti sangat pembersih, termasuk dalam makanan, dia tidak bisa melihat sisa makanan, terutama yang berbumbu, katanya sayang. Sudah susah-susah dibuat, didapatnya pun susah, jadi jangan sampai disia-siakan.
            Lap tangan bercorak merah akan mereka pakai bergantian setelah mencuci tangan dengan air. Sudah pasti Bapak yang mengawali, barulah kemudian siapa saja yang mau berebut. Paska makan malam semakin asyik buat ngobrol atau becanda. Ibu akan jadi penonton ketika anak-anaknya mulai bertingkah. Ariani anak yang paling aktif membuat lelucon, umurnya yang masih tiga tahun membuat segala tingkahnya menjadi lucu didukung dengan wajah imut dan menggemaskan dimilikinya.
“Ayo...tampilkan Ani...mau naynyi. Sekuntum mawarl merlah.” Kata Ariani memelas ingin dipanggil bak penyanyi di televisi ketika masuk panggung.
“Inilah dia biduan kita, kita tampilnya....ARIANI !!!” Sambut Ismail kakak yang paling jangkung.
Ariani dengan antusias naik ke atas meja dan joget-joget tidak jelas. Lirik lagunya ngalur-ngidul, entah lari ke mana lirik-lirik itu. Kakak-kakaknya sangat sayang kepadanya, jadi iyakan saja permintaannya jika itu membuatnya senang. Mereka mulai bertepuk tangan untuk menyemangati Ariani yang sedang berkhayal jadi biduan. Aku tidak habis fikir kenapa Sekuntum Mawar Merah yang jadi lagu pilihannya. Mungkin ini lagu pertama dan berulang-ulang didengarnya di televisi. Evita Mala memang sedang naik daun waktu itu.
            Rumah yang mereka tempati hanya memiliki empat kamar. Lima anak perempuan Ibu tidur dalam satu kamar. Kadang Niha dan Ariani harus tidur di ruang tengah ditemani Ibu karena suhu udara sangat panas, mereka tidak tahan berdesakan, terlabih merekalah yang harus mengalah dari kakak-kakak mereka. Empat anak laki-laki Ibu akan berbagi kamar. Dua di kamar depan dan dua lagi di kamar samping.
            Biasanya anak-anak perempuan Ibu akan membuat keributan setiap menjelang tidur. Ada yang berebut selimut atau bantal. Ariani paling sering menjadi biang kerok disetiap keributan. Untuk hal yang satu ini, tidak ada yang mau mengalah, apa lagi harus menyerahkan selimut mereka. Sebenarnya ini bukanlah sebuah perkelahian, ini semacam nyanyian sebelum tidur untuk mereka. Ibu sendiri hanya menegur mereka karena suara yang mereka timbulkan terlalu keras. Keributan sekecil apapun akan terdengar oleh tetangga, maklum rumah mereka di perumahan padat penduduk dengan gang tikus sebagai jalan ke luar masuk lingkungan rumah. Tidak ada halaman, yang ada buka pintu bertemu pintu tetangga. Kalau sudah puas dengan pertikaian tak berarti itu, mereka akan tidur dengan nyenyak tanpa terbangun di tengah malam.
            Subuh adalah mesin waktu yang tidak bisa memberi toleransi kepada siapapun. Terlambat satu detik, sama seperti kamu lupa menyisir rambut sebelum diikat. Kamar mandi umum adalah hal yang paling berharga ketika ayam berkokok. Lebih dari tiga kepala keluarga memanfaat sumur di belakang rumah untuk keperluan sehari-sehari. Termasuk kamar mandi umum yang ukurannya cukup besar, sayang hanya ada satu bilik saja. Jadi, anak-anak Ibu harus bergegas untuk mendapatkan urutan pertama dalam mengantri. Mereka tidak boleh terlambat ke sekolah, bisa jadi akan menjadi sejarah dalam keluarga ibu jika ada di antara anaknya yang terlambat sekolah. Paling tidak jika tidak mendapat urutan pertama, ya kedua atau ketiga. Jangan sampai yang keempat atau lebih dari itu. Seandainya terpaksa, maka bermimpilah untuk bisa menyantap sarapan. Lebih baik tidak sarapan dari pada terlambat ke sekolah. Untuk mewanti-wanti, Ibu selalu membangunkan anak-anaknya tepat ketika ayam berkokok. Setelah membangunkan mereka, Ibu akan ke samping rumah, menyalakan tungku dan memasak air. Ibu benar-benar berhemat untuk menggunakan kompornya karena harga minyak tanah sedang melambung tinggi. Masak air dengan ukuran teko dua kali lipat dari ukuran kepala Ariani membutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga Ibu lebih memilih memasaknya di tungku saja. Selain itu, menggunakan tungku bisa mempercepat air untuk mendidih. Menghemat waktu, kata Ibu.
            Air yang dimasak Ibu untuk dicampur air dingin di bak mandi khusus untuk suaminya. Katanya, Bapak tidak bisa mandi dengan air yang terlalu dingin. Sisa air yang di teko akan Ibu simpan di termos. Wajib hukumnya ketersediaan air panas di rumah Ibu. Suaminya doyan minum kopi dan setiap hari ada saja tamu yang datang mencari Bapak.
            Sementara anak-anak Ibu mengenakan seragam sekolah. Ibu mengoyak-ngoyak nasi di wajan. Harum masakannya akan tercium sampai ke kamar.
“Nasi goreng.” Kata anak-anaknya  dalam hati seperti sudah hafal menu sarapan mereka.
Anak-anak Ibu wajib mendapat sarapan. Itulah aturan yang dibuat Ibu. Seberapapun jumlahnya, semua anak Ibu harus kebagian. Bukan tanpa alasan Ibu membuat peraturan yang menjadi kebiasaan ini, tapi semata-mata karena tidak setiap hari Ibu bisa memberi uang saku untuk anak-anaknya. Dengan tetap sarapan tiap paginya, anak-anak Ibu bisa menahan lapar sampai siang hari.
***
Keluarga Ibu cukup terkenal di lingkungannya. Pertama karena suaminya seorang guru yang setiap siswanya akan mengingat perangainya yang tegas dan sedikit menakutkan. Setiap sekolah tempatnya mengajar tidak akan lupa bagaimana dia memipin dengan membawa sifat tempramennya. Sebagian orang yang mengenalnya menjulukinya Pak Raden karena kumis lebat yang menempel di antara bibir dan hidung. Dan suara tinggi khas dari mulutnya ketika amarahnya meletup-letup. Anak-anaknya pun tak lepas dari ketakutan ketika Bapak mereka mulai marah. Pecut yang terbuat dari ekor ikan pari yang sudah dikeringkan menjadi cemeti. Paha mereka akan mendapat cap merah dari cemeti jika coba-coba membatah atau merengek tidak jelas di depannya. Si bungsu Ariani pernah sampai bersembunyi di kolong meja untuk menghindari sabetan cemeti Bapak.
Namun demikian keburukan-keburukan suaminya yang menonjol itu tertutupi dengan prestasi-prestasi sembilan anak yang dilahirkannya. Dari anak pertamanya hingga kesembilan memiliki riwayat kecerdasan, mereka tidak pernah ke luar dari peringkat tiga besar di kelas. Teman-teman sekolah mereka tidak jarang yang menyatakan langsung kekaguman mereka. Para tetangga akan membanding-bandingkan anaknya denga anak-anak Ibu, kemudian bertanya bagaimana anak-anak Ibu belajar, apa yang mereka pelajari, apa makanan mereka, hingga berapa jam mereka bermain perharinya. Ibu menjawab hanya dengan senyum. Anak Ibu Dian, Niha dan Ariani selalu mendapat kunjungan dari teman-temannya yang ingin belajar kelompok atau mengerjakan PR bersama, terutama PR matematika. Jika ketiga anaknya itu secara bersamaan kedatangan teman-temannya, maka harus ada salah satu dari mereka yang mengalah, sedang satunya lagi harus rela belajar di ruang tengah yang ubinnya tidak rata atau kamar kakak laki-lakinya. Setelahnya tiga anak Ibu akan mengatur jadwal belajar bersama mereka, siapa yang siang hari dan siapa yang sore hari, agar mereka tetap bisa belajar di ruang tamu yang lantainya sudah memakai keramik.
Masalah akademik, Ibu menyerahkan anak-anaknya di tangan dingin suaminya. Maklum, Ibu merasa tidak layak untuk itu karena hanya lulusan SMP. Suaminya yang dipanggil Bapak oleh anak-anaknya tidak pernah setengah-setengah dalam mengajar. Jika mereka salah, maka siap-siap mendapat hentakan kemarahan Bapak yang terkadang membuat jantung hampir meledak karena terkejut.
Sore itu Niha minta diajarkan Bapak menyelesaikan PR matematikanya. Ada lima soal yang harus dijawabnya. Empat soal sudah diselesaikan sebelumnya. Soal terakhir cukup sulit baginya, sehingga butuh bantuan Bapaknya. Bapak duduk di sampingnya,
“Coba kerjakan dengan langkah ini,” kata Bapak mengintruksikan. Niha menegerjakan dengan hati-hati, namun tanpa disadari dia salah menghitung perkalian yang dikerjakannya,
“Prak !!!” suara meja dipukul Bapak. Niha terperanjat.
“Borlok ! Masak 4 x 8 bisa salah ?” Suara tinggi Bapak menyusup ke telinganya, hingga tak bisa ke luar lagi dari telinga yang lainnya. Suara Bapak seakan tertahan di tengah-tengah otaknya.
            Sejak saat itu, Niha atau saudaranya yang lain enggan meminta Bapak sebagai mentor mereka. Bisa-bisa mereka terkena serangan jantung atau kuping mereka menjadi tolek karena suara tinggi menyusup ke gendang telinga dan tak mau ke luar. Mereka lebih memilih mengerjakan sendiri atau bertanya pada teman, meski 50% jawabannya akan salah.
            Anak lelaki Ibu yang bernama Bahar pernah dilempar ke luar rumah oleh Bapak karena menangis seharian. Tidak tahan dengan rengekannya, Bapak mengangkat tubuh kurusnya dan melemparnya dari pintu belakang rumah hingga Bahar mendarat dekat sumur. Bahar mengaduh, tangisnya semakin menjadi. Tetangga hanya menatap iba pada Bahar, tapi mereka seperti terbiasa melihat adegan-adegan seperti ini. Ibu dengan cepat mengangkat tubuh Bahar dan menyuruhnya jauh-jauh dari suaminya. Karena semakin suaminya mendengar rengekan itu, akan ada hukuman susulan yang akan didapatnya.
            Semakin hari, setiap pergantian bulan, tahun...anak-anak Ibu semakin besar dan dewasa. Has anak tertua Ibu kini mencuci pakaiannya sendiri, terasa malu bila masih berpangku tangan pada Ibu sedang ia sendiri akan segera kuliah. Dia mencoba untuk mandiri sebelum ia benar-benar harus mandiri ketika kuliah nanti. Tahun berikutnya anak pertama Ibu pergi merantau ke kota orang untuk meneruskan sekolah. Tidak banyak pemuda di lingkungan rumah Ibu yang bisa melanjutkan kuliah, apa lagi sampai ke luar kota. Sebuah kebanggan bagi Ibu, terutama suaminya. Bapak adalah orang yang sangat akademis, apa-apa harus dengan pendidikan. Pendidikan adalah nomor satu, meski harus berdarah-darah Bapak memperjuangkannya. Menurutnya, sia-sia saja kecerdasan yang kami miliki jika tak diseimbangkan dengan pendidikan yang layak. Maka disetiap kesempatan, Bapak tak pernah melewatkan untuk datang ke sekolah anak-anaknya ketika pembagian rapor. Bahkan dalam keadaan apapun. Bapak tetap akan datang walau masih mengenakan kaos dan sarung.
            Tahun-tahun berikutnya. Satu demi satu anak Ibu mulai meninggalkan rumah demi pendidikan mereka. Bukan, sebenarnya ini cita-cita suaminya yang ingin melihat anaknya sama seperti dirinya, jadi pegawai negeri dan hidup dengan layak.
            Rumah Ibu tak seramai tahun-tahun lalu. Empat anak Ibu, Sabol, Ismail, Asti dan Anwar harus menimba ilmu di kota Mataram. Jaraknya jauh dari rumah. Empat anak Ibu naik kendaraan Engkel, satu-satunya transportasi menuju Mataram. Lama perjalanan 1 jam 30 menit sampai 2 jam lamanya. Mereka juga harus ngekos, tidak mungkin bolak-balik setiap hari dengan Engkel yang tidak beroperasi setiap saat. Ongkos juga jadi pertimbangan utama. Tiga anak lelaki Ibu tinggal di satu kos, sedang Asti di kos yang berbeda. Mereka akan pulang jika libur saja atau pada lebaran.
            Bahar anak lelaki satu-satunya di rumah jarang tidur di rumah. Bahar sekarang duduk di bangku SMP. Dia lebih suka menginap di rumah sepupunya. Pulang di saat dia mau pulang. Niha dan Ariani baru masuk sekolah. Mereka jadi tanggungjawab Riza sebagai kakak perempuan tertua di rumah saat ini. Mengajipun Riza yang harus membimbing adik-adiknya. Riza juga yang membantu Ibu untuk mencuci pakaian adiknya Niha dan Ariani, sedang Dian sudah mulai mencuci sendiri.
            Sejak peralihan pemerintahan dari Orde Lama ke Orde  Baru, ekonomi masyarakat menjadi sulit. Berdampak pula pada pola konsumsi barang dan makanan yang berkurang. Suami Ibu tidak lagi mendapat beras dari pemerintah. Biasanya para guru akan mendapat satu karung penuh beras dengan cuma-cuma dari pemerintah, salah satu program unggulan pemerintah sebagai bentuk menyesejahterakan kehidupan guru. Sekarang tidak lagi, biaya hidup pun meningkat drastis. Inilah masa-masa Indonesia menghadapi krisis ekonomi. Ibu menjadi sosok yang kreatif. Dengan keahliannya, Ibu mulai berjualan kecil-kecilan, dari berjualan rujak, bubur, serabi, dan  buah hasil kebun. Ibu jarang terlihat menggoncang mesin jahitnya karena para pelanggannya mulai berkurang.
            Kebutuhan sekolah anak-anak Ibu meningkat drastis. Bukan buku tulis saja yang mereka fikirkan, sebagian besar mata pelajaran membutuhkan buku bacaan yang mendukung. Apa lagi tiga anak Ibu sekolah di sekolah unggulan. Menuntut mereka harus memenuhi kriteria sebagai siswa unggulan. Sekolah akan menuntut mereka membeli beberapa buku paket. Tidak jarang anak Ibu Riza sampai menangis seharian karena belum juga bisa membayar buku paket yang dibagikan gurunya.
            Gaji suami Ibu hanya cukup membiayai empat anaknya yang sekolah di Mataram. Dia harus memikirkan lima anak yang lainnya yang mulai banyak rengekan. Sering sekali mereka menangis di pagi hari ketika akan berangkat sekolah. Mereka takut untuk ke sekolah karena belum bayar ini itu. Sebagai seorang yang mencintai anak-anaknya, Ibu semakin rajin mencari uang dengan segala cara, termasuk menjual barang-barang berharga yang dia miliki, bahkan Ibu akan berhutang ke tetangga.
Pada libur semester, Asti pulang bersama Anwar. Mereka terlihat tidak bahagia. Asti bercerita tentang dompetnya yang hilang ketika ditinggalnya ke kamar mandi sewaktu di kampus. Dompet itu adalah hidupnya. KTP, Kartu Mahasiswa, Kartu Perpustakaan dan sejumlah uang, sisa beasiswa yang didapatnya ada di dompet itu.
Anwar hanya terdiam sejak kedatangannya. Dia memang pendiam, tapi tak seperti biasanya. Anwar menghampiri Ibu di dapur dan menyodorkan sebuah kertas yang dilipatnya. Anwar tak bicara sepatah kata pun, dia kembali ke kamarnya meninggalkan Ibu yang heran dengan kelakuannya. Sebelum membuka apa isi kertas tersebut, Ibu merasa ada masalah di dalamnya.
“Apa lagi ini ?” Kata Ibu membuka kertas dan mulai membaca tulisan yang tertata rapi. Dia tahu itu adalah tulisan tangan Anwar. Ibu mulai membaca kata demi kata.
Ibu menghela nafas panjang. Ibu terduduk di kursi kayu dekat pintu dapur. Dia melihat anak-anak perempuannya duduk melingkar di depan tv, mereka sedang serius mendengar Asti bercerita. Mata Ibu kemudian mengarah ke pintu kamar Anwar yang tertutup rapat. Ibu melipat kembali surat yang dipegangnya.
“Kalian lapar ? Nasinya sudah matang.” Ibu memberi isyarat kepada anak-anaknya untuk mengikutinya ke dapur. Anak-anak Ibu berhamburan saling mendahului masuk ke dapur.
“Sisakan untuk Bapak dan Anwar.” Kata Ibu kepada anak-anak perempuannya yang antusias menyendok nasi hangat di wadah besar berwarna milenium.
“Aku panggil Kak Anwar ya, biar kita makan bersama.” Niha melepas piringnya dan pergi ke kamar Anwar.
“Bu, Bahar mana ?” Tanya Asti.
“Di rumah Paman Husin. Kak Bahar sekarang jarang pulang, kalau ada perlu saja baru pulang,” kata Riza menyambut pertanyaan Asti.
“Benar begitu Bu ?” Tanya Asti lagi.
“Iya.” Jawab Ibu pendek.
“Dasar anak itu, memang pantas dia dijuluki karet, kerjaannya mental sini mental sana,” omelan khas Asti ke luar juga di hari pertamanya di rumah.
“Sudah-sudah, kalian makannya di  luar sana.” Ibu mengusir anak-anaknya dari dapur.
            Anwar ke luar dari kamarnya bergabung dengan saudaranya yang lain. Makan siang hari itu menjadi ramai. Mereka bertingkah seperti tak ada beban. Ibu sedikit terhibur dengan kebahagiaan anak-anaknya.
“Jangan terlalu ribut. Bapak sedang tidur, tahu sendiri kalau Bapak kalian marahnya seperti apa.” Kepala Ibu menyembul dari pintu dapur untuk memperingati anak-anaknya.
            Suara mereka sedikit demi sedikit bisa dikendalikan. Selesai makan mereka melanjutkan suara berisik mereka di kamar dengan pintu yang tertutup rapat agar suara yang mereka hasilkan tak sampai ke kamar Bapak.
            Ibu duduk termenung di belakang rumah. Ia duduk di kursi kayu buatan Bapak. Matanya seperti memandang sumur di depannya, namun fikiran dan perasaannya mengambang. Beberapa kali Ibu menghela nafas panjang. Siang hari adalah suasana paling menyeramkan di lingkungan rumahnya. Para perempuan yang sebagian besar adalah ibu rumah tangga akan beristirahat sampai adzan ashar berkumandang, begitu juga dengan anak-anak perempuan mereka. Laki-laki dewasa hampir seluruhnya bekerja sebagai buruh bangunan yang aktif dari pagi sampai sore hari di luar rumah. Mereka baru kembali pada sore hari atau malam harinya, atau bisa seminggu kemudian. Sedang anak laki-laki biasa bermain di lapangan atau tempat yang jauh dari rumah untuk menghindari omelan para orang tua. Gang-gang akan menjadi sepi. Hanya suara angin dan panas matahari yang bersemangat meramaikan siang itu. Ibu menyempatkan diri menutup jendela kamar anak-anak perempuannya menghindari terpaan sinar matahari siang yang begitu panas. Mereka bisa terbangun karenanya.
            Ibu dan suaminya terlihat duduk di kursi panjang ruang tamu. Sambil menyeruput kopi hitamnya, Bapak menmbaca surat yang disodorkan Ibu. Dahinya mulai mengkerut membentuk pola kemarahan. Alis Bapak sangat khas bila menunjukkan kemarahannya. Ujung alis Bapak naik tajam seakan membentuk huruf V bila disatukan.
“Anwar !” Panggil Bapak dengan keras.
Kelima anak perempuan Ibu yang masih di kamar langsung mengintip dari pintu.
“Anak-anak, ada ubi rebus di dapur. Kalian  bermain di lapangan dulu.” Ibu seperti tak ingin anak-anaknya yang lain terlibat dalam masalah yang ada.
Empat anak perempuan Ibu mengikuti perintah, sedang Asti beralasan ingin bersih-bersih dan mencuci pakaian. Mana mungkin dia bermain dengan anak-anak sekolahan, permainan mereka pasti itu-itu lagi.
            Sambil menggoyang mesin jahitnya, Ibu memperhatikan Bapak yang memberi makan ayam-ayamnya. Sepertinya Bapak masih kesal, terlihat dari alisnya yang masih membentuk huruf V.
“Bu. Mana satu lagi ayamku ?” Bapak berteriak. Ibu menghentikan mesinnya.
“Ayam yang mana ?” Tanya Ibu balik dengan santai. Paling suaminya sedang mencari kambing hitam atas kekesalan, fikir Ibu.
“Ayam pejantanku !” Suara Bapak semakin keras.
Mendengar ayam pejantan suaminya yang hilang, Ibu bergegas ke luar ikut panik dan membantu suaminya mencari. Ayam pejantan yang hilang adalah ayam kesayangan Bapak. Sudah banyak yang menawarnya, tapi tetap saja Bapak tidak mau menjualnya.
“Paling nanti dia pulang sendiri,” kata Ibu menenagkan Bapak yang tambah gelisah karena hari mulai gelap.
“Tidak, ini sudah hampir magrib, seharusnya dia sudah kembali,” Bapak mondar-mandir mencari.
“Mana anak-anak ?”
Baru saja Bapak bertanya, lima anak peempuannya muncul dari gang. Mereka terkejut melihat Bapak yang berkacak pinggang menyambut mereka.
“Cepat cari ayam pejantan Bapak ! Jangan coba-coba kembali kalau belum menemukannya !”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KSB 2019