Mengapa Kalian
Kembali dengan Tangisan Saat Aku Mundur dan Berfikir Kalian Bahagia Tanpaku.
Aku
diam saat kalian berbicara tentang rencana bukan kesepakatan. Kita pernah
membuat kesepakatan antarsahabat untuk sampai di tujuan pada waktu yang sama.
Aku yang melangkah lebih dulu memperlambat jalanku agar kita sampai di tujuan
bersama-sama. Sementara aku menunggu, kalian malah berlari dan mendahuluiku.
Sudah lama aku tertinggal di belakang hingga kalian hampir sampai di tujuan,
akhirnya aku merenung dan memutuskan tetap dengan langkahku, karena mengejar
kalian pun terasa sulit. Bukan, bukan karena aku lemah, tapi aku ingin menjauh
dari perasaan benci atas semua ini. Aku takut akan membenci kalian dan
memutuskan hubungan yang sudah kita bina hampir empat tahun ini. Maka,
sementara kalian berbicara, aku memilih diam.
Sementara
aku diam dengan pilihanku di simpang dua. Biarlah kalian berjalan di simpang
yang berbeda denganku, biar kita tidak saling menyakiti satu sama lain. Kalian melangkahlah dengan cara kalian, aku
pun akan melangkah dengan caraku kini, tidak ada lagi kesepakatan yang bisa
kita buat selama kita masih berada di jalan yang berbeda. Aku tidak ingin lari
hanya karena iri, aku hanya ingin menyendiri. Sebenarnya aku benci dengan
keadaanku sekarang, sehingga kuputuskan ini untuk menghibur diriku, bahkan
mencari topangan pundak orang lain karena pundak kalian terlalu jauh untukku
raih saat ini. Untuk mengeluh pun terasa tak ada tempat di tabung perasaan
kalian, karena kalian sendiri sudah mengisinya dengan berbagai rasa yang
menjalar di setiap langkah kalian. Lebih banyak kutumpahkan semuanya dalam
goresan tinta hitam di atas kertas putih yang lebih bisa mendengarku, lebih
bisa mengerti, lebih bisa memahami, dan menjadi sahabat sejati.
Aku
memang pengecut tidak berani mengatakan ini di hadapan kalian, karena aku takut
hati kalian lebih rapuh dari hatiku sendiri. Bisa saja kita berjanji banyak,
namun akan ada sedikit yang bisa terwujud. Maka dalam suatu kondisi, aku
sepakat dengan kalimat bijak yang
mengatakan “Diam itu Emas.” Kita sahabat tak pernah sadar posisi kita masing-masing,
hingga aku mengerti bahwa sahabat itu tak sesederhana untuk selalu ada saat
suka maupun duka, tapi mengerti satu sama lain tanpa harus banyak bicara itulah
yang sebenarnya teman sejati.
Kini
aku lebih suka mendengarkan lagu-lagu yang mellow, biar habis sedihku seketika,
biar esok aku lupa akan semua ini. Belum lama aku menata hatiku hingga menjadi
utuh, kalian kembali menghampiriku yang sedang duduk santai di sebuah ruang
keluarga. Aku ingin marah pada kalian, karena kalian terlambat untuk kembali.
Tapi, aku merasa tak pantas mengatakan itu pada kalian apa lagi setelah
kudengar salah satu di antara kalian gagal menyentuh ujung puncak itu. Kau
bilang ia sedang menangis dan kau merasa bersalah, karena yang mengibarkan
bendera perjuangan itu dirimu, yang mengobarkan semangatnya dirimu juga. Aku
pun bertanya, apa aku harus memeluk kalian lagi seperti dulu ?. Saat aku ingin
melakukannya, aku berada di tempat yang berbeda dengan kalian, jauh dari sana.
Mungkin nanti saat aku kembali, aku akan melakukannya untuk kalian, tapi tidak
dengan air mata ini, karena sudah habis menangis di sini. Maaf jika aku tak
sepenuhnya menyentuh hati kalian, maaf juga jika aku tak sempurna menjadi
sahabat kalian. Seribu cerita yang kita ukir di jalanan itu tak sama dengan
sekarang, karena jejak yang dulu telah terhapus oleh debu-debu kendaraan yang
lalu lalang. Aku berharap kalian kembali di persimpangan sebelumnya, di tempat
kita berpisah. Mengulang janji itu sepenuh hati layaknya sahabat yang saling
mengerti. Aku masih mampu menampung keluh kesah kalian, aku juga masih mampu
memberikan apa yang aku punya sekarang. Jangan buat diri kalian lemah sementara
aku tidak ada di samping kalian. Jika kalian lemah, maka hanya aku yang sudah
cacat ini yang bertahan dan mungkin tak mampu mengangkat kalian kembali. Tapi,
jangan khawatir dengan hati ini yang lebih kuat dari tubuhku sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar