Selasa, 04 Juni 2013

Bisakah Kita Kembali dan Berjalan Bersama ?



Mengapa Kalian Kembali dengan Tangisan Saat Aku Mundur dan Berfikir Kalian Bahagia Tanpaku.

Teman terbaik adalah diam dan merenung. Teman terbaik adalah melakukan bukan berbicara. Dan teman teraik adalah tinta dan kertas putih.
Aku diam saat kalian berbicara tentang rencana bukan kesepakatan. Kita pernah membuat kesepakatan antarsahabat untuk sampai di tujuan pada waktu yang sama. Aku yang melangkah lebih dulu memperlambat jalanku agar kita sampai di tujuan bersama-sama. Sementara aku menunggu, kalian malah berlari dan mendahuluiku. Sudah lama aku tertinggal di belakang hingga kalian hampir sampai di tujuan, akhirnya aku merenung dan memutuskan tetap dengan langkahku, karena mengejar kalian pun terasa sulit. Bukan, bukan karena aku lemah, tapi aku ingin menjauh dari perasaan benci atas semua ini. Aku takut akan membenci kalian dan memutuskan hubungan yang sudah kita bina hampir empat tahun ini. Maka, sementara kalian berbicara, aku memilih diam.
Sementara aku diam dengan pilihanku di simpang dua. Biarlah kalian berjalan di simpang yang berbeda denganku, biar kita tidak saling menyakiti satu sama lain.  Kalian melangkahlah dengan cara kalian, aku pun akan melangkah dengan caraku kini, tidak ada lagi kesepakatan yang bisa kita buat selama kita masih berada di jalan yang berbeda. Aku tidak ingin lari hanya karena iri, aku hanya ingin menyendiri. Sebenarnya aku benci dengan keadaanku sekarang, sehingga kuputuskan ini untuk menghibur diriku, bahkan mencari topangan pundak orang lain karena pundak kalian terlalu jauh untukku raih saat ini. Untuk mengeluh pun terasa tak ada tempat di tabung perasaan kalian, karena kalian sendiri sudah mengisinya dengan berbagai rasa yang menjalar di setiap langkah kalian. Lebih banyak kutumpahkan semuanya dalam goresan tinta hitam di atas kertas putih yang lebih bisa mendengarku, lebih bisa mengerti, lebih bisa memahami, dan menjadi sahabat sejati.
Aku memang pengecut tidak berani mengatakan ini di hadapan kalian, karena aku takut hati kalian lebih rapuh dari hatiku sendiri. Bisa saja kita berjanji banyak, namun akan ada sedikit yang bisa terwujud. Maka dalam suatu kondisi, aku sepakat  dengan kalimat bijak yang mengatakan “Diam itu Emas.” Kita sahabat tak pernah sadar posisi kita masing-masing, hingga aku mengerti bahwa sahabat itu tak sesederhana untuk selalu ada saat suka maupun duka, tapi mengerti satu sama lain tanpa harus banyak bicara itulah yang sebenarnya teman sejati.
Kini aku lebih suka mendengarkan lagu-lagu yang mellow, biar habis sedihku seketika, biar esok aku lupa akan semua ini. Belum lama aku menata hatiku hingga menjadi utuh, kalian kembali menghampiriku yang sedang duduk santai di sebuah ruang keluarga. Aku ingin marah pada kalian, karena kalian terlambat untuk kembali. Tapi, aku merasa tak pantas mengatakan itu pada kalian apa lagi setelah kudengar salah satu di antara kalian gagal menyentuh ujung puncak itu. Kau bilang ia sedang menangis dan kau merasa bersalah, karena yang mengibarkan bendera perjuangan itu dirimu, yang mengobarkan semangatnya dirimu juga. Aku pun bertanya, apa aku harus memeluk kalian lagi seperti dulu ?. Saat aku ingin melakukannya, aku berada di tempat yang berbeda dengan kalian, jauh dari sana. Mungkin nanti saat aku kembali, aku akan melakukannya untuk kalian, tapi tidak dengan air mata ini, karena sudah habis menangis di sini. Maaf jika aku tak sepenuhnya menyentuh hati kalian, maaf juga jika aku tak sempurna menjadi sahabat kalian. Seribu cerita yang kita ukir di jalanan itu tak sama dengan sekarang, karena jejak yang dulu telah terhapus oleh debu-debu kendaraan yang lalu lalang. Aku berharap kalian kembali di persimpangan sebelumnya, di tempat kita berpisah. Mengulang janji itu sepenuh hati layaknya sahabat yang saling mengerti. Aku masih mampu menampung keluh kesah kalian, aku juga masih mampu memberikan apa yang aku punya sekarang. Jangan buat diri kalian lemah sementara aku tidak ada di samping kalian. Jika kalian lemah, maka hanya aku yang sudah cacat ini yang bertahan dan mungkin tak mampu mengangkat kalian kembali. Tapi, jangan khawatir dengan hati ini yang lebih kuat dari tubuhku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KSB 2019